Warga Tolak Pembangunan Lapas Narkoba di Kangean

SUMENEP – Gagasan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas) membangun lembaga pemasyarakatan (lapas) di Pulau Kangean, Sumenep, menimbulkan gejolak. Mayoritas warga di pulau itu menolak ide didirikannya lapas khusus bagi bandar narkoba.

Warga Kangean waswas, lapas bandar narkoba kelas kakap dapat merusak citra, adat istiadat, dan moral penduduk lokal. Jika lapas bandar narkoba ada di Kangean, warga setempat bisa saja diidentikkan dengan barang haram tersebut.

Tokoh pemuda Kangean Hidayaturrahman menyatakan, lapas narkoba akan membuat warga terisolasi. Alasannya, bakal ada penjagaan ketat di pintu transportasi laut. Hal itu juga dinilai berpengaruh pada perkembangan perekonomian dan pembangunan di pulau yang terkenal sebagai tempat pelestraian ayam bekisar itu.

Apalagi, informasi yang beredar di masyarakat, lapas narkoba nantinya dijaga buaya. Selain itu, sinyal telepon seluler tidak bisa masuk ke Kangean. Padahal, sinyal telepon sangat dibutuhkan masyarakat. ”Jika sinyal telepon saja tidak masuk, bagaimana warga bisa cerdas,” kata Dayat, panggilan akrabnya.

Dia menilai, keberadaan lapas bisa memicu peredaran narkoba di Kangean menyentuh masyarakat umum. Sebab, sudah menjadi rahasia umum, peredaran narkoba justru banyak terjadi di lapas. Memang, ide Buwas hingga kini belum ditindaklanjuti. Namun, gagasan yang dilontarkan mantan Kabareskrim itu membuat warga waswas.

Warga takut sewaktu-waktu rencana itu benar-benar direalisasikan. Dayat berharap, Pemkab Sumenep tidak tinggal diam. Dia meminta pemkab proaktif bersama masyarakat menolak rencana pembangunan lapas narkoba di Kangean.

”Pemkab jangan mengorbankan warga,” pintanya. Sebenarnya, sejak zaman kolonial Belanda, di Kangean memang ada lapas. Dulu lapas tersebut dijadikan tempat  khusus pengasingan para maling kelas kakap. Namun kini,  lapas yang berada di Desa/Kecamatan Arjasa itu dioperasikan untuk tahanan umum.

Keberadaan lapas peninggalan kolonial Belanda tersebut sempat mengusik rasa percaya diri warga Kangean. Ketika bepergian ke luar pulau, warga Kangean kerap diolok-olok pulau yang mereka tinggali adalah sarang maling. Atas dasar itu, warga meminta lapas dijadikan tempat tahanan umum, bukan khusus untuk maling kelas kakap.

Lapas  dengan kapasitas 33 orang itu, saat ini digunakan untuk tempat tahanan titipan dari Polsek Arjasa dan Polsek Kangayan. Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzimenyampaikan, pembangunan lapas khusus bandar narkoba di Kangean masih sebatas wacana.

Hingga kini belum ada tindak lanjut dari pemerintah pusat maupun BNN untuk merealisasikan pembangunan lapas tersebut. Kepala BNNK Sumenep Bambang Sutrisna juga mengaku belum mendapat informasi tindak lanjut mengenai rencana pembangunan lapas narkoba di Kangean.

”Tidak ada pemberitahuan dari BNN,” katanya. Kasubsi Pelayanan dan Pengelolaan Rutan Kelas II-B Arjasa Anwar Affandi mengatakan, belum ada koordinasi mengenai rencana Buwas tersebut. Dari Kanwil Jatim juga belum ada informasi. ”Mungkin hanya wacana,” ujarnya.

Pada prinsipnya, kata Affandi, pihak Rutan Kelas II-B Arjasa siap dijadikan lokasi tahanan apa pun. Sebab, warga binaan yang mendekam di lapas itu minim. ”Lapas di Arjasa itu satu-satunya lapas di kepulauan. Warga binaannya hanya satu dua orang,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, Buwas mewacanakan pembangunan lapas khusus bandar narkoba di Kangean. Lapas akan dijaga ketat. Selain sipir, juga ada banyak buaya yang mengelilingi lapas tersebut. Tidak hanya itu, lapas bakal diisolasi dengan cara tidak ada sinyal telepon. (radar)