Waduh, Polres Dipraperadilkan

Tersangka Penadah Curanmor Daftarkan Gugatan ke PN

SUMENEP – Polres Sumenep  dipraperadilkan oleh Faruk  Afero, 33. Melalui kuasa hukumnya, pria asal Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk, itu memasukkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Sumenep kemarin (4/1).

Dia tidak terima ditetapkan sebagai tersangka penadah hasil pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Kuasa hukum Faruk yakni Ach.  Supyadi. Bersama istri Faruk, Supyadi kemarin memasukkan gugatan ke PN. Materi gugatan yaitu meminta PN membatalkan penetapan tersangka Faruk.

Polres dituding tidak memiliki bukti cukup menetapkan Faruk sebagai tersangka penadah hasil curanmor. Permohonan praperadilan anti kerugian itu berdasar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang KUHP. Dalam pasal 77 disebutkan, pengadilan negeri berwenang memeriksa dan memutus sesuai dengan ketentuan yang diatur  dalam undang-undang.

”Klien kami merasa jadi korban kriminalisasi polisi dengan ditangkap tanpa bukti yang kuat,” kata Supyadi. Lewat uji alat bukti di praperadilan nanti, akan diketahui kekuatan bukti yang disangkakan penyidik. Tindakan Polres Sumenep selaku termohon, sambung Supyadi,  diduga melanggar pasal  17 jo pasal 21 ayat (1) KUHP.

Ketua PN Sumenep diharapkan mengabulkan permohonan Faruk Afero tersebut. Supyadi beralasan, penetapan dan penahanan tersangka tidak didasarkan pada bukti-bukti yang cukup. Penahanan hanya didasarkan pada dua unit sepeda motor Verza dan Mio yang  tidak dilengkapi surat-surat kendaraan resmi.

Menurut dia, penyidik polres tidak bisa membuktikan pemilik kendaraan dan pencuri. Bila tersangka dijerat pasal 480 KUHP atau sebagai penadah, mestinya terlebih dahulu, penyidik menyebutkan siapa korban dan pelaku pencurian.

”Masak ada penadah tanpa ada korban dan pelaku pencurian. Kejanggalan itulah yang kami gugat lewat PN Sumenep,” jelasnya.  Dalam berita acara pemeriksaan,  kata Supyadi, tidak  disebutkan korban maupun pelaku curanmor. Padahal, Faruk ditetapkan tersangka  sebagai penadah. Sementara dua sepeda motor yang dijadikan bukti ditengarai hanya kredit macet.

”Bukti yang dijadikan dasar polisi itu kredit macet, bukan hasil pencurian maupun hasil penggelapan,” ucapnya. Supyadi menegaskan, penangkapan penggugat pada Selasa 29 Desember 2015 di Desa Kebonagung, Kecamatan Kota  Sumenep, janggal.

Sebelum penangkapan, ada orang menelepon dan mengajak  bertemu dengan Faruk. Setelah  bertemu dan berbincang sebentar, lalu menghilang. Kemudian, polisi datang, lalu menangkap Faruk. Setelah itu, keluraga Faruk tidak diberi surat  perintah penangkapan.

”Baru diberi surat perintah penangkapan setelah keluarga mempertanyakan. Melalui kronologi itulah, diduga kuat,  terjadi kriminalisasi terhadap  Faruk,” tuding Supyadi. Kasubbaghumas Polres  Sumenep AKP Hasanuddin mengaku belum mengetahui instansinya dipraperadilkan. Pihaknya belum mendapat tembusan mengenai materi gugatan lewat PN Sumenep itu.

”Hak semua tersangka mengajukan praperadilan. Kami  siap menghadapi,” katanya  normatif. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • harga ready mix bangkalan