Upacara Cahe di Gua Mandalia

MELINTAS di Desa Langsar, Kecamatan Saronggi terdengar suara lirih diiringi gamelan. Suara itu keluar dari mulut manis sinden asli Desa Langsar yang memang terkenal kaya kesenian daerah itu. Suara itu seolah menghipnotis karena terdengar indah dan merdu.

Puluhan-warga-Desa-Langsar,-Kecamatan-Saronggi,-Sumenep,-menggelar-upacara-cahe-di-Gua-Mandalia-kemarin.

Sekitar lima meter dari jalan desa, terlihat kerumunan orang menyaksikan sebuah pertunjukan. Rasa penasaran memaksa Jawa Pos  Radar Madura menuju kerumunan  orang itu. Sesampainya di tengah-tengah kerumunan, ada upacara adat yang dipertontonkan warga.

Upacara itu biasa disebut cahe yang bertujuan meminta hujan kepada sang pencipta.  Upacara meminta hujan itu dilakukan di Gua Mandalia, Desa Langsar. Warga berbondong-bondong mendatangi gua itu dengan membawa  aneka macam sesajen dari rumah masing-masing.

Tapi, tidak semua orang yang hadir dalam upacara itu boleh masuk ke gua. Hanya sekitar sepuluh orang yang sudah dilengkapi  pakaian adat khusus  yang diizinkan masuk. Sesajen yang dibawa warga dari rumah masing-masing diserahkan  kepada sepuluh orang berpakaian khusus warna abu-abu  garis putih tersebut.

Salah satu  sesajen berupa nasi dan ayam.  Sebelum sesajen diletakkan di dalam gua, peserta membuka upacara  dengan tari-tarian diiringi  puji-pujian berbahasa Madura. Peserta upacara cahe memegang kelapa kuning yang dilengkapi  kembang tujuh rupa.

Sumarno, tokoh adat Desa Langsar menyampaikan, upacara cahe dilaksanakan setahun dua kali. Yakni, saat  menjelang musim tanam dan setelah panen raya. ”Sekarang  kemarau berkepanjangan, upacara  cahe bertujuan meminta hujan,” katanya.

Pemilihan Gua Mandalia sebagai  tempat pelaksanaan upacara  tidak sembarang. Tapi, ada sejarah yang dipercaya masyarakat  sekitar sehingga upacara wajib  dilakukan di gua tersebut.  Sejarah dimaksud yaitu, Gua Mandalia merupakan tempat persemedian para leluhur Desa  Langsar.

Gua itu dikeramatkan dan dijadikan tempat pelaksanaan upacara cahe. Setelah segala rentetan upacara selesai, makanan yang  dimasukkan ke gua dikeluarkan untuk dimakan bersama. Warga  yang berkumpul di sekitar gua itu diperkenankan bergabung  menyantap makanan itu.

Sukandar, 45, warga setempat, mengatakan, upacara cahe wajib   dilestarikan. Selain sebagai  bentuk doa kepada Tuhan, adat istiadat itu sebagai saksi sejarah  keluhuran budi nenek moyang.  ”Dengan pelestarian adat  istiadat ini, para kaula muda  diharapkan bisa memahami  sejarah,” ucapnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • upacara adat cahe
  • orang yang terlibat dalam adat cahe