Tuntut Hukum Mati Beni

Sidang Tertunda, Terdakwa tanpa Penasihat Hukum

SUMENEP – Puluhan orang histeris di Pengadilan Negeri (PN) Sumenep kemarin (3/3). Mereka merupakan keluarga tiga korban pembunuhan yang menyeret Beni Sukarno. Mereka menuntut pria 36 tahun itu dihukum mati.

Salah-satu-keluarga-korban-pingsan-setelah-hakim-memutuskan-sidang-perdana-Beni-Sukarno-ditunda-kemarin.

Sebelumnya, Beni ditahan di Rutan Kelas II-B Sumenep. Sekitar pukul 11.20 pria asal Bangkalan itu dijemput petugas untuk menjalani sidang perdana di pengadilan. Saat itu, di depan kantor  pengadilan telah menunggu  puluhan keluarga korban. Mereka terus mengikuti pria  yang dikawal polisi itu ke  ruang sidang. Mereka juga  merangsek masuk.

Namun, kedatangan mereka tidak tertampung karena ruang sidang sudah penuh. Akibatnya, sebagian harusmenunggu di luar. Sidang pembacaan tuntutan  itu diwarnai isak tangis keluarga korban. Sebagian di antara mereka juga meneriaki pria  yang tega menghabisi nyawa  istri dan kedua mertuanya itu. Seorang perempuan meronta selama persidangan.

Dia juga berteriak agar Beni dihukum mati. Namun,  sidang kemarin ditunda. Sebab, terdakwa tidak didampingi kuasa hukum. Sidang akan dilanjutkan Rabu (16/3). Jaksa penuntut umum (JPU) tidak mengajukan keberatan dengan penundaan sidang tersebut.

Setelah Hakim Ketua Arlandi Triyogo ketok palu, aparat kepolisian  menggiring Beni ke luar ruang sidang. Selain Arlandi Triyogo, ada hakim anggota Isdaryanto dan Widodo Hariawan.  Saat itu, salah satu keluarga korban mengejar Beni.

Dia berusaha memukul terdakwa. Aksi itu diikuti dengan tangis   dan teriakan kata-kata kasar.Upaya pengejaran berhasil dicegah aparat kepolisian. Akibatnya, seorang perempuan jatuh pingsan. Dia kemudian  dibawa ke mini bus yang mereka  tumpangi sebelumnya.

Sesaat kemudian mereka meninggalkan kantor pengadilan. Purwanto selaku kuasa hukum korban mengatakan, pihaknya memasrahkan penuh terhadap hakim. Pihaknya akan menunggu jalannya sidang yang akan dilaksanakan dua  pekan mendatang.

Menurut dia, Beni memang  layak dijerat pasal 340 KUHP  tentang Pembunuhan Berencana  dengan ancaman maksimal hukuman mati. ”Pihak keluarga berharap tersangka dihukum mati,” katanya. Sementara itu, JPU Dicky  mengatakan, pasal yang dijeratkan kepada tersangka memang  mengancam hingga hukuman  mati.

Namun, dia tetap  menunggu keputusan hakim dalam sidang. Apalagi, sidang perdana kemarin ditunda karena Beni tidak didampingi  kuasa hukum. ”Ancaman hukumannya maksimal  hingga hukuman mati. Kita tunggu sampai proses  sidang selesai,” terangnya.

Sekadar mengingatkan,  Kamis, 22 Oktober lalu, terjadi  pembantaian sadis yang dilakukan Beni Sukarno di Kelurahan Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep. Tiga nyawa anggota  keluarga melayang dan satu lainnya kritis. Korban meninggal  masih orang dekat pelaku.

Mereka Saradina, 32, istri pelaku; Suhairiyah, 50; dan  Abdul Rahman, 65, mertua Beni. Sementara Hengky Tornando,  18, keponakan Saradina  kritis. Peristiwa tersebut  diduga bermotif masalah keluarga.  (radar)

kata Kunci Terkait:

  • sidang pembunuhan berantai di sumenep