Terkait Dugaan Malpraktek, RS Asyifa Mendadak Tertutup

PAMEKASAN – Dugaan malapraktik yang menimpa Habibah, 63, membuat pihak Rumah Sakit (RS) Asyifa Husada mendadak sulit dimintai keterangan.  Manajemen RS di Jalan Mandilaras, Pamekasan, itu terkesan enggan mengklarifikasi  terkait slang kecil yang tertinggal di perut warga Desa Waru Timur, Kecamatan Waru, Pamekasan.

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) hanya ditemui Sapta Mega selaku sekretaris direktur RS Asyifa Husada. Tetapi dia mengaku tidak bisa memberi keterangan apa pun. Dia berdalih dr Puguh yang menangani Habibah sedang tidak bisa diganggu.

”Dokter yang bersangkutan masih operasi. Jadi belum bisa mengklarifikasi, belum bisa ketemu,” ucapnya kemarin (28/4). Dia tidak bisa memastikan Puguh bisa ditemui. Berulang kali Sapta Mega hanya menyampaikan permohonan maaf. ”Mohon maaf untuk kali ini belum bisa mengklarifikasi. Kalau memang mau klarifikasi soal itu, tidak bisa hari ini,” tambahnya.

Mega juga enggan menjelaskan identitas RS di Surabaya yang menangani Habibah. Dia mengaku tidak memiliki kapasitas untuk menjawab. Namun, dia berjanji akan menindaklanjuti ke pimpinannya. ”Saya juga akan laporkan ke pimpinan kalau ada Sampean ke sini,” janjinya.

Sebelumnya, koran ini sudah berupaya meminta keterangan dari Puguh. Namun, upaya tersebut tidak ditanggapi. Dihubungi melalui telepon, yang bersangkutan tidak merespons. Pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalas. Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Apik mengaku prihatin dengan kasus
itu. Pihaknya berjanji akan memanggil manajemen RS Asyifa untuk klarifikasi.

”Kalau kejadian seperti ini terus terjadi, kami rekomendasikan  agar izin operasional RS Asyifa dicabut. Ini masalah nyawa seseorang,” terangnya. Menurut Apik, sebagai RS yang memberi rujukan, RS Asyifa harus bertanggung jawab atas derita pasien. Pihaknya juga mendesak dilakukan evaluasi sistem rujukan RS di seluruh Pamekasan.

Menurut dia, selama pasien bisa ditangani RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan, pasien tidak perlu dirujuk ke Surabaya. ”Kadang rumah sakit swasta itu kan gengsi yang mau rujuk ke RSUD. Padahal fasilitas di RSUD dr Slamet Martodirdjo sudah lengkap dan mendapat akreditasi utama setara dengan RSU dr Soetomo Surabaya,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pamekasan dr Syaifuddin mengaku belum mendapat laporan mengenai kasus tersebut. Karena itu, IDI belum bisa mengambil sikap atau langkah yang akan dilakukan. ”Saya tidak berani komentar karena tidak tahu betul kasusnya,” katanya.

IDI, jelas Syaifuddin, hanya bisa bertindak manakala sudah ada laporan, baik dari RS Asyifa maupun dari keluarga pasien. Dengan laporan itu, IDI bisa klarifikasi dan konsultasi tentang kondisi pasien hingga ada slang tertinggal di dalam perut. Setelah itu pihaknya memberikan pembinaan yang diperlukan.

”Sekadar saran, kalau melakukan operasi hendaknya hati-hati. Harus sesuai prosedur dan teknis operasi. Kalau itu dilakukan, saya kira tidak terjadi apa-apa,” ujarnya. Sebelumnya, Habibah diduga menjadi korban malapraktik yang melibatkan RS Asyifa Husada.

Sekitar sebelas bulan lalu dia periksa di RS tersebut. Saat itu dia divonis mengalami infeksi saluran kemih dan empedu. RS Asyifa menyarankan Habibah dirujuk ke salah satu RS di Surabaya. Pihak keluarga menyetujui dan dilakukan operasi di Surabaya.

Setelah dibawa pulang, ternyata Habibah mengalami nyeri di perut. Setelah dilakukan ultrasonografi (USG), di perut Habibah ada benda asing. Pihak RS kemudian melakukan operasi untuk kali kedua. Dari operasi ini diketahui di perut Habibah tertinggal slang kecil sekitar setengah meter.

Hingga kemarin, Habibah masih terbaring lemas. Kepala Dinkes Pamekasan Ismail Bey belum bisa dimintai keterangan. Dihubungi melalui nomor telepon seluler (ponsel) pribadinya tidak aktif. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • dugaan mal praktek pamekasan
  • berita rumah sakit asyifa
  • ismail bey pamekasan
  • malpraktek rsud dr soetomo