Tak Pakai Seragam Baru, Guru SMPN 1 Gapura Tampar Siswa

SUMENEP – Tindakan tidak terpuji dilakukan seorang guru SMPN 1 Gapura, Sumenep. RI (inisial) dituding menampar murid lantaran omongannya dianggap  kurang sopan. Pemicunya, karena murid itu tidak mengenakan seragam baru. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM), peristiwa itu terjadi Rabu (24/8).

”Hadiah” sang  guru itu mendarat di pipi WU (inisial), asal Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura. Sebab, siswa kelas VIII itu tidak mengenakan seragam baru sesuai ketentuan sekolah. WU merupakan salah satu  siswa penerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).

Bantuan itu diperuntukkan membeli seragam baru. Karena itu, RI menanyakan seragam yang seharusnya dipakai siswanya itu. Saat itulah terjadi perdebatan ringan di antara mereka yang berujung penamparan. Moh. Afif, orang tua WU, membenarkan peristiwa penamparan itu.

Menurut dia, anaknya menjadi korban kekerasan RI. Selain putranya, siswa lain juga pernah mendapat perlakuan keras itu. ”Memang sering mukul,” katanya kemarin (2/9). Setelah kejadian itu, Aif mendatangi sekolah tempat anaknya  menimba ilmu. Dia meminta  klariikasi atas insiden tersebut.

Menurut dia, pihak sekolah mengaku salah. RI dilarang mengajar kelas VIII. Afif mengatakan, insiden  itu tidak dilaporkan ke polisi. Dia memaafkan guru itu asal tidak mengulangi kembali.  ”Kalau sampai terulang, akan saya laporkan ke polisi,” ancamnya.

Beberapa hari kemudian, pihak sekolah meminta wali murid menandatangani surat pernyataan. Surat itu berisi dukungan agar RI kembali mengajar siswa kelas VIII. Tindakan itu menuai protes karena dianggap pemaksaan. Sejumlah wali murid menolak keinginan sekolah itu.

Salah satunya oleh Masdawi.  Dia menganggap, pemaksaan menandatangani surat pernyataan itu merugikan dan berdampak hukum. Masdawi mengatakan, permintaan pihak sekolah itu tidak memberi contoh yang baik. Seharusnya, kata dia, jika ingin menarik keputusannya,  tidak mengambinghitamkan   wali murid.

Secara finansial, permintaan itu merugikan. Pihak sekolah meminta agar pernyataan itu bermeterai 6000. Biaya pembelian meterai ditanggung wali murid. ”Uang itu sangat berarti bagi kami,” katanya. Selain itu, surat pernyataan tersebut berdampak hukum. Karena itu, dia menolak permintaan pihak sekolah.

”Dunia  pendidikan itu seharusnya bijak dalam mengambil keputusan,” katanya. Dikonirmasi, Humas SMPN  1 Gapura Tauik membenarkan adanya insiden itu. Dia menegaskan, pihak sekolah sudah  menjatuhkan sanksi kepada RI. Guru tersebut tidak boleh mengajar di kelas VIII.

Dia membantah tudingan pemaksaan kepada wali murid untuk membuat surat pernyataan. Menurut dia, sekolah meminta secara baik untuk membuat pernyataan yang isinya  mendukung agar RI kembali mengajar di kelas VIII. ”Tujuan kami, agar kondusivitas sekolah  kembali normal,” katanya.

Disinggung mengenai keberatan wali murid, dia bakal menindaklanjuti. Surat pernyataan  yang sudah disetor bakal dikembalikan. Di tempat terpisah, Plt Kabid Dikmen Disdik Sumenep Misbahul Munir mengaku belum  mengetahui insiden tersebut. Karena itu, dia belum bersedia memberi keterangan.

”Akan  kami cek dulu kebenaran informasi itu,” katanya. Anggota Komisi IV DPRD Sumenep Jubriyanto mengatakan, jika informasi itu benar, sangat disayangkan. Sebab, guru seharusnya memberi contoh perilaku yang baik kepada   murid. Guru dituntut bijak  dalam bersikap. Jika ada sesuatu yang salah  terhadap muridnya, harus diselesaikan dengan baik.

”Yang jelas, kekerasan bukan solusi menyelesaikan masalah. Justru menambah  masalah,” katanya.   Pihaknya bakal berkoordinasi dengan disdik. Diharapkan persoalan itu dapat diselesaikan dengan baik. ”Semoga tidak terulang kembali,”  harapnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • berita wahyu sujoko sumenep
  • gapura sumenep terkini
  • guru smpn 1 gapura sumenep
  • kasus kekerasan di smp gapura
  • kasus smpn 1 sumenep
  • pin bb rini sumenep
  • radar madura SMP 1 Gapura
  • smp 1 gapura
  • smpn 1 gapura anak yang tidak pakai baju baru