Suku Bajo-Mandar Hidup Rukun, Tak Bisa Berbahasa Madura

”SALAMA tekke,” suara keras menyambut kehadiran JPRM di tengah kerumunan beberapa bocah. Seorang pria berbadan  kurus dengan baju kuning mencolok mengulurkan tangan untuk bersalaman. Beberapa saat kemudian kami masuk ke rumah panggung  milik seorang pria yang kemudian diketahui bernama Sarjan, 43.

Warga-berada-di-rumah-panggung-Desa-Pulau-Pagerungan-Besar,-Kecamatan-Sapeken,-Sumenep,-pekan-lalu.

Namun, meski raga sudah duduk di amper, pikiran terus bertanya-tanya tentang kata-kata yang dilontarkan anak-anak itu. Secangkir kopi hitam juga menemani kami. Berkunjung ke rumah warga, koran ini tidak sendirian. Ditemani  Husen, 32, warga setempat.

Bapak dua anak itu tidak hanya sebagai penunjuk jalan.  Dia juga sebagai penerjemah. ”Salama tekke itu berarti selamat datang dalam bahasa Bajo,” kata Husen. Secara administratif, Desa/Kepulauan Pagerungan Besar memang bagian dari Kabupaten  Sumenep.

Namun, rata-rata warga yang ditemui tidak bisa berbahasa Madura. Mereka menggunakan bahasa Bajo dan Mandar asal Sulawesi. Kami ke rumah Sarjan atas rekomendasi Husen. Kami mohon pamit kepada  Sarjan setelah kopi di cangkir  beling putih itu habis.

Beberapa saat kemudian, koran ini mengajak Husen beranjak ke tempat lain. Bersama peternak  itik petelur itu kami melihat suasana perkampungan tanpa harus bertamu secara resmi. Menyisir perkampungan dimulai.

Karena sulit berinteraksi dengan masyarakat, koran ini hanya bertegur sapa melalui senyuman. Sambil berjalan, Husen menceritakan seputar  warga di tempat dia tinggal itu.  Meski secara administrasi masuk wilayah Sumenep, katanya,  mayoritas warga tidak  bisa berbahasa Madura.

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Bajo dan Mandar. ”Kalau pakai bahasa Madura, kebanyakan tidak mengerti,” katanya.  Husen kemudian menceritakan  asal muasal warga yang tinggal di salah satu pulau  di Kecamatan Sapeken itu.

Nenek moyang warga setempat berasal dari Suku Bajo dan Mandar, Sulawesi.  Mereka terpaksa pindah ke Desa/Pulau Pagerungan Besar  akibat insiden kerusuhan di Sulawesi beberapa abad  silam. ”Waktu itu ada insiden  kerusuhan yang menilai Abdul  Kahar Muzakar (seorang patriot asal Sulawesi, Red)   membelot dari pemerintahan  Indonesia,” tuturnya.

Sejak saat itu, warga Sulawesi  bertebaran mencari tempat aman. Sebagian di antara mereka  membabat alas di Pulau Pagerungan Besar. Adat istiadat  Suku Bajo dan Mandar masih  sangat kental di pulau migas itu hingga saat ini.

Salah satu bukti kekentalan  budaya Bajo dan Mandar,  jelas Husen, bisa dilihat dari komposisi makanan. Menu  makanan warga setempat tidak  lepas dari santan dan ikan laut.  Tak ayal, pulau itu penuh dengan pohon kelapa.

”Bisa dibuat  santan, ada juga yang dibuat  sekol,” jelasnya. Selain itu, warga yang bekerja  sebagai nelayan kerap mencari ikan hingga ke perairan Sulawesi. Tujuan mereka bukan semata mencari tangkapan.  Mereka juga silaturahmi dengan  sanak famili di sana.

Kehidupan dua suku di pulau  itu berjalan sangat harmonis.  Antarsuku sama-sama belajar  bahasa masing-masing. Saling menghormati, gotong  royong, dan saling membantu  menjadi hukum adat  yang wajib dipatuhi. Hal itu berdampak positif terhadap  kehidupan masyarakat.

Tidak  pernah ada kasus pencurian  di pulau tersebut. Karena sudah sore, kami kembali ke penginapan. Koran ini sempat mengajak pria murah senyum itu ke daratan Sumenep.  Dia mengaku sangat ingin  tahu suasana ibu kota kabupaten.

”Saya tidak pernah ke  Madura. Apalagi ke Sumenep,”  katanya seakan Pagerungan  bukan bagian dari Kabupaten Sumenep. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • Gambar kata kata anak bajo
  • sikwep bahasa madura
  • sikwep madura