Sipir Jadi Agen Narkoba

Dikendalikan Napi dari Dalam Lapas

PAMEKASAN – Peredaran narkotika dan obat/bahan berbahaya (narkoba) benar-benar mengkhawatirkan. Bisnis  barang haram tersebut ternyata tidak  hanya melibatkan masyarakat umum.  Oknum petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) dan polisi juga turut andil menyebarkan narkoba.

Zahri, petugas Lapas Kelas II-A Pamekasan ditangkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur (Jatim), Senin (14/3). Dia dibekuk petugas di jalan raya akses Suramadu karena membawa sabu-sabu dengan jumlah  cukup fantastis, dua ons!  Salah seorang anggota keluarga membenarkan bahwa Zahri ditangkap petugas BNNP Jatim.

”Saya tahu Zahri  ditangkap setelah teman-temannya di lapas bercerita kepada saya,” kata pria 30 tahun itu. Dia menceritakan kronologi Zahri bisa berurusan dengan BNNP. Waktu itu Zahri disuruh mengambil paket sabu-sabu di sebuah tempat di Surabaya.

Yang mengagetkan, Zahri ternyata disuruh oleh narapidana (napi) penghuni Lapas Kelas II-A Pamekasan. Begitu sabu-sabu dalam genggaman, Zahri bergegas kembali ke lapas. Namun sayang, saat melintas di jalan raya akses Suramadu, Zahri  dicegat petugas BNNP Jatim.

Karena terbukti membawa sabu-sabu, Zahri pun ditangkap. Pada Kamis (17/3), Zahri dibawa ke Lapas Kelas II-A Pamekasan oleh petugas  BNNP. Tujuannya, dia diminta menunjukkan napi yang menyuruh mengambil sabu-sabu seberat dua ons tersebut.

Waktu itu juga, napi dimaksud ditangkap dan dibawa oleh petugas BNNP Jatim. Pihak keluarga sudah menerima  surat pemberitahuan  penangkapan Zahri. Namun, keluarga tidak diperbolehkan menemui sipir golongan   III tersebut.

”Kami ingin memastikan apakah itu benar-benar Zahri, tapi BNNP tidak memperkenankan. Sekarang Zahri sudah tidak ada di lapas,” tutur pria  yang meminta namanya dirahasiakan  itu. Kepala Lapas Kelas II-A Pamekasan Kusmanto Eko Putro tidak banyak memberikan  penjelasan mengenai   penangkapan  Zahri dan napi yang terlibat narkoba. Dia hanya menyatakan, Zahri dan napi bersangkutan dalam penanganan BNNP.

”Kami tidak mau berkomentar banyak, kasus ini sudah ditangani BNNP Jatim,” katanya singkat. Sementara itu, kiai se-Madura pernah mendatangi Polda Jatim. Mereka mempertanyakan maraknya peredaran narkoba di Madura. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bangkalan turut hadir dan meminta peredaran narkoba di Kota Salak dienyahkan.

Ketua MUI Bangkalan Syarifuddin  Damanhuri menyampaikan, pihaknya mempertanyakan meluasnya peredaran narkoba. Kata dia, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Setiadji pernah mengeluarkan statement, peredaran narkoba di suatu daerah meluas bisa saja karena ada penegak hukum  yang ikut bermain.

Statement Kapolda itu lalu disampaikan kepada Kapolres Bangkalan. Syarifuddin menyatakan, kalau memang ada aparat penegak hukum terlibat  peredaran narkoba, harus diproses dengan tegas. Menanggapi itu, Kapolres Bangkalan AKBP Windiyanto Pratomo mengaku, pihaknya melakukan pendalaman penyelidikan    terkait dugaan polisi  terlibat peredaran narkoba.

”Kami belum punya cukup bukti (keterlibatan polisi dalam  menggunakan atau mengedarkan  narkoba),” ujarnya. Namun demikian, dia mengakui, bisa saja ada oknum polisi terlibat narkoba. Sebab narkoba dapat menghampiri  semua kalangan.

Misalnya, karena situasi pribadi yang cukup  pelik, polisi terjerumus dalam lingkaran narkoba. Windiyanto tidak menyebutkan  nama anggota polisi yang   pernah terjerumus narkoba. ”Sebetulnya dia (oknum polisi) juga korban. Tapi kalau terbukti  menggunakan atau mengedarkannarkoba, pasti kami tindak,” tegasnya.

Dia menyarankan, jika ada polisi yang pernah memakai narkoba kemudian kecanduan, sebaiknya mengaku agar dilakukan rehabilitasi. Sebab kalau sampai tertangkap tangan, bisa diproses secara hukum dan dipecat sebagai polisi. (radar)