Siap Damai, asal Aremania Minta Maaf Secara Langsung

SEPAK bola sejatinya menjadi media pemersatu dan nasionalisme. Masyarakat dari belahan penjuru bisa disatukan dengan tontonan bola bundar yang digiring oleh 22 pemain di lapangan hijau ini. Termasuk antara suporter Madura United dengan Arema yang  selama ini dikenal harmonis dan bersatu.

Tetapi apa yang terjadi, pada Jumat malam, dalam laga lanjutan Indonesia Soccer Championsih (ISC) A menjadi duri kebersamaan. Khususnya bagi suporter Madura  United, Tretan Dhibi’. Suporter  yang bermarkas di Jalan Raya Panglegur, Pamekasan ini mengaku  dikhianati oleh Aremania.

Pembina Tretan Dhibi’ Faisal  Ibrahim mengungkapkan, sebelum  kejadian Jumat malam, antara Aremania dengan suporter tamu tidak ada konflik. Bahkan, kedua belah pihak juga berkoordinasi  menjelang laga tim papan atas itu. Pihaknya mengaku sudah minta izin untuk meramaikan pertandingan akbar tersebut.

”Pada H-5 kami sudah berkomunikasi dengan Aremania. Kami bertanya apakah suporter Madura United boleh datang atau tidak.  Mereka memperbolehkan,” ujar Faisal. Pada Kamis (1/9) atau H-1 dari  pertandingan, suporter Tretan Dhibi’ sudah tiba di Malang.

Mereka bahkan sempat ngopi darat dengan Aremania di Stasiun Kota baru. Mereka menyepakati titik kumpul sebelum berangkat ke Stadion Kanjuruhan. ”Tapi di lapangan, kejadiannya justru berbeda. Kalau memang itu direncanakan, berarti mereka telah   mengkhianati kami,” tambahnya.

Koordinator lapangan Tretan  Dhibi’ Munadi menambahkan, sejak babak pertama pihaknya sudah mendapat teror dari Aremania. Para suporter kesebelasan berjuluk Singo Edan itu berkali-kali melemparkan batu dan botol ke arah suporter Madura United. Bahkan, seorang polisi harus dilarikan ke rumah sakit gara-gara ulah anarkis Aremania.

”Mereka mengacungkan jari tengah ke arah suporter Tretan Dhibi’ sambil berteriak gak iso mule (tak bisa pulang, Red),” paparnya. Usai pertandingan, para suporter Laskar Sape Kerrap langsung pulang. Tapi, di jalan mereka di- buntuti oleh Aremania.

Bahkan  mereka juga melempar batu ke  arah armada suporter. Akibatnya, sejumlah kaca bus suporter Madura United rusak. Atas kejadian ini, Tretan Dhibi’ kemudian mengeluarkan empat maklumat kepada Aremania. Maklumat tersebut dibacakan oleh juru  bicara Sofyan Lubis kemarin (5/9).

Pertama, menuntut permintaan maaf secara resmi dari Aremania untuk datang ke base camp Tretan Dhibi’ di Pamekasan.  Kedua, menuntut Wakapolres  Malang untuk bertanggung jawab pada kerusakan armada suporter. Tuntutan yang ketiga, jika Aremania tidak bersedia meminta maaf, Tretan Dhibi’ menuntut Polda  Jatim mencabut izin pertandingan  Arema di Malang. Sebab, tidak ada jaminan keamanan dan kenyamanan terhadap suporter tamu.

Sementara tuntutan yang keempat, komunitas suporter se-Madura, terdiri dari K-Conk Mania,  Trunojoyo Mania, Tretan Dhibi’, dan Peccot tetap berkomitmen terjalinnya persaudaraan dalam konsep Madura Bersatu.  Ketua Tretan Dhibi’ Bambang Priyanto berharap, Aremania bisa memenuhi tuntutan tersebut.

Dia  menjamin akan menjaga perdamaian antara suporter Madura United dengan suporter Arema. Dengan  catatan, mereka bisa meminta maaf secara langsung. ”Sekali lagi, kami meminta permohonan maaf langsung, tidak melalui media sosial,” tegasnya.

Baginya perpecahan tidak akan membuat sepak bola tanah air semakin maju. Sebaliknya justru membuat olahraga yang paling digandrungi ini terpuruk. Selain itu, tindakan anarkis atau kekerasan suporter juga mencederai fair play sepak bola.

”Pada waktu 90 menit saat berlaga  kita memang musuh. Tapi setelah pertandingan, kita bersaudara. Maka dari itu, kami tidak menginginkan kejadian ini terulang kembali,” pungkasnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • carok arema mania vs ka conk
  • Janda bokingan kota duri