Ratusan Siswa Dilaporkan Gagal Unas

KASI Kurikulum SMP, SMA, dan SMK Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan Risman Hariyanto memastikan, berdasar laporan tiap sekolah, ada 45 siswa yang tidak mengikuti unas 2016. Perinciannya, SMK 20 siswa, SMA 19 siswa, dan MA 6 siswa.

Puluhan siswa tersebut gagal unas dengan alasan bermacam-macam. Namun, alasan yang  paling banyak disampaikan pihak sekolah adalah siswa menikah. ”Alasan menikah sangat tidak kami inginkan, tapi mau bagaimana lagi,” kata Risman.

Di Pamekasan, berdasar rekapitulasi disdik setempat, ada 90 siswa yang tidak hadir mengikuti unas. Perinciannya, SMK 23 siswa,  SMA 24 siswa, dan MA Subrayon  52 berjumlah 43 siswa. ”Jumlah itu  belum disatukan dengan MA Subrayon 51,” ungkap Plt Kepala Disdik  Pamekasan Moch. Tarsun.

Siswa yang tidak mengikuti unas itu, jelas dia, mayoritas dilaporkan telah berhenti sekolah. Alasannya, menikah dan bekerja menjelang pelaksanaan unas. Hal itu diketahui setelah pihak sekolah mendatangi rumah dan mencari informasi peserta yang absen pada hari pertama unas.

Sementara itu, Kabid Kurikulum Disdik Sampang Arief Budiansor menyampaikan, total siswa yang tidak mengikuti unas 2016 karena berhenti sekolah berjumlah 70 orang. Perinciannya, SMA 24  siswa, MA 27 siswa, dan SMK 19 siswa.

”Itu data sementara yang kami terima hingga sore ini (kemarin, Red),” katanya. Kepala MAN Model Bangkalan Fathorrakhman mengungkapkan,  seorang siswi di sekolahnya dipastikan tidak mengikuti unas. Siswi tersebut termasuk salah satu  di antara yang berhenti sekolah menjelang pelaksanaan unas karena alasan menikah.

”Siswi yang berhenti itu asal Kecamatan Klampis,” katanya. Fathorrakhman mengaku tidak berdaya mencegah siswi tersebut berhenti sekolah karena diminta orang tuanya. Kata dia, siswi menikah atas keinginan keluarganya. Bupati Bangkalan Muh. Makmun  Ibnu Fuad mengaku sangat  menyayangkan hal tersebut.

”Saatnya masyarakat mengutamakan pendidikan anak. Sangat disayangkan tidak ikut unas karena menikah,” ujarnya. Dia berpendapat, menikah bisa ditunda. Tetapi, unas tidak dapat ditunda. Bupati yang akrab disapa  Momon itu menyarankan menunda  pernikahan hingga selesai unas.

Penelusuran Jawa Pos Radar  Madura pada unas tahun lalu,  ada beberapa sekolah dan madrasah  yang me-mark up jumlah peserta unas. Saat pelaksanaan unas, ada siswa yang tidak hadir. Pihak sekolah melaporkan bahwa siswa tersebut berhenti (drop out/DO) menjelang pelaksanaan unas  karena alasan menikah.

Padahal, siswa itu memang tidak sekolah. Praktik tak terpuji itu dilakukan sekolah karena beberapa alasan. Di antaranya, memperbesar perolehan BOS, BSM, dan syarat sekolah menjadi pelaksana unas. Yakni, minimal memiliki 20 siswa. (radar)