Ratusan Hektare Lahan Garam Gagal Panen

November Masuk Musim Penghujan

KALIANGET – Musim kemarau kali ini rupanya tidak terlalu menguntungkan bagi petani garam. Ratusan lahan pegaraman gagal panen karena kemarau basah. Akibatnya, produksi garam dan pendapatan petani menurun drastis. Ketua Asosiasi Masyarakat Garam (AMG) Sumenep Ubaidillah mengatakan, petani garam kali ini menjerit.

Puluhan ribu ton kristal garam gagal dikais. Kandungan NaCl itu kembali mencair  setelah dua kali diguyur hujan. Menurut dia, lahan garam di Sumenep  sekitar 250 hektare. Lahan tersebut berada di beberapa kecamatan. Yakni, Kecamatan Kalianget, Saronggi, Pragaan, dan Gili Genting.

Kemudian, Kecamatan Gapura, Dungkek, dan Raas. Standarnya, kata Ubaidillah, per hektare mampu memproduksi 80–100 ton. Namun karena kemarau basah, volume produksinya melorot. Yakni, sekitar 40  ton per hektare. ”Petani garam saat ini menjerit,” katanya kemarin (1/10).

Ubaidillah mengatakan, cuaca tahun ini tidak menentu. Seharusnya sekarang masih kemarau. Dengan demikian, produksi kristal putih di kabupaten ujung timur Madura itu gagal panen. Kemarau basah itu tidak hanya berpengaruh pada penurunan volume produksi. Tapi, juga berdampak pada kualitas garam.

Mengingat, sebagian petani masih menggunakan lahan tanah. Jika diguyur hujan, air laut yang berada di meja pegaraman menjadi keruh. Akibatnya, warna garam sedikit kehitam-hitaman. ”Kalau kualitasnya menurun, harganya juga rendah,” katanya.

Saat ini harga garam di petani tidak terlalu mahal. Untuk kualitas 1 (kw-1) Rp 500 ribu. Sementara untuk kw-2 dibanderol Rp 450 ribu, kw-3 hanya Rp 400 ribu. Akibatnya, hasil yang diperoleh petani minim. Sementara itu, Observer Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kalianget Agus Arif Rahman  mengatakan jika sekarang belum   masuk musim penghujan. Tapi, masih kemarau basah.

Diprediksi, musim penghujan bakal bermula pertengahan November mendatang.  Hanya, volumenya masih  rendah. Menurut dia, puncak penghujan diprediksi bakal  terjadi Januari–Februari tahun depan.  ”Cuaca tahun ini memang tidak teratur.  Itu dampak dari lanina. Meski masih  musim kemarau, tapi sewaktu-waktu bisa turun hujan. Kondisi cuaca terus dinamis  setiap harinya,” tandasnya. (radar)