Proyek Sumur Bor Rawan Bancakan

Anggaran Rp 4,4 M, Dipecah Menjadi 36 Paket Pekerjaan

SAMPANG – Proyek sumur bor dengan anggaran Rp 4,4 miliar lebih di Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Sampang rawan bancakan. Proyek untuk memenuhi ketersediaan air bersih itu di pecah menjadi 36 paket pekerjaan.

Tiap paket anggarannya bervariasi antara Rp 70 juta-Rp 200 juta. Proyek yang dananya bersumber dari APBD Sampang 2016 itu dicurigai sengaja dipecah menjadi 36 paket. Tujuannya, agar rekanan pelaksana bisa ditunjuk langsung atau tanpa proses lelang.

Proyek tersebut rencananya akan direalisasikan di enam kecamatan. Yaitu Kecamatan Karang Penang, Sreseh, Banyuates, Camplong, Jrengik, dan Omben. Pembangunan sumur di 36 titik akan dikerjakan pihak ketiga atau rekanan melalui penunjukan langsung.

Anggaran  paling kecil pembuatan satu sumur bor Rp 70 juta. Sementara anggaran paling besar Rp 200 juta. Total anggaran yang dikucurkan Pemkab Sampang untuk membuat 36 sumur bor Rp 4.428.119.000. Kabid Pertambangan Disperindagtam Sampang Suaidi menyampaikan, proyek sumur bor akan dilaksanakan pada triwulan ketiga 2016.

Dia  mengklaim, rekanan pelaksana proyek yang ditunjuk secara langsung sesuai aturan. ”Kami akan verifikasi sesuai aturan,” katanya kemarin (30/3). ”Proyek sumur bor tidak akan menjadi bancakan,” ucap dia. Mengenai perbedaan anggaran pembuatan sumur, Suaidi menyatakan, disesuaikan dengan potensi kandungan air dan tingkat kesulitan.

Lokasi yang lebih mudah terjangkau anggarannya lebih murah. Sementara lokasi sumur bor yang sulit ditemukan sumber air, anggarannya lebih besar. Ada beberapa kecamatan yang diprediksi mengalami kesulitan dalam menemukan sumber air. Di antaranya Karang Penang dan Sreseh.

Karena itu, dia meminta rekanan bekerja dengan teliti. Sebab jika sumber air tidak langsung ditemukan, pengeboran akan dilakukan berulang-ulang dan itu menyedot anggaran cukup besar. ”Pengeboran dinilai berhasil jika debet air 2,5 liter per detik.

Air hasil pengeboran tidak payau. Ini memang tidak ada dalam aturan, tapi dua poin indikasi keberhasilan pengeboran itu menjadi rujukan,” jelas Suaidi. Disinggung tentang perubahan drastis proyek sumur bor 2016 dengan tahun lalu, dia beralasan, peningkatan program tersebut merupakan salah satu visi dan misi bupati Sampang.

Tahun ini anggaran proyek sumur bor jauh lebih besar dibandingkan pada 2015. Tahun lalu anggaran proyek sumur bor Rp 190 juta.  Wakil Ketua Komisi III DPRD Sampang Aulia Rahman berjanji akan melakukan pengawasan serius terhadap proyek sumur bor.

Sebab proyek penunjukan langsung yang anggarannya di bawah Rp 200 juta, rawan penyelewengan. ”Program sumur bor harus berhasil dan tepat sasaran,” katanya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • auliya rahman sampang
  • rumah aulia rahman anggota komisi 3 dprd sampang
  • aulia rahman sampang
  • stadion pamekasan aulia