Pria Beranak Dua Setubuhi Gadis SMP

SAMPANG – Kasus pemerkosaan terhadap perempuan di bawah umur masih saja terjadi. Kali ini menimpa MS (inisial), 16, warga Keca­matan Tambelangan, Sampang. MS menjadi  korban keberingasan Mamat, 40, warga Desa Tambelangan, Kecamatan Tambelangan yang sudah memiliki dua orang anak.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura, kejadian memilukan itu terjadi sejak pertengahan Desember 2015. Awalnya korban di­  hubungi pelaku via telepon. Untuk melancarkan aksinya, pelaku menyuruh S (inisial), 18, dan J (inisial), 18, untuk  menjemput korban.

S dan J  tidak lain adalah teman korban, yang juga warga Kecamatan Tambelangan.  Korban diberitahu jika ada kegiatan di sekolahnya. Sayangnya, ketika dijemput, korban tidak diantarkan ke sekolah, melainkan ke sebuah rumah kosong di Desa Kodak,  Kecamatan Torjun.

Sebelum sampai di lokasi, mata korban ditutup dengan sebuah kain  lalu dibawa ke dalam kamar.  Ketika itu, korban bertanya kenapa dibawa ke tempat tersebut. Tanpa ba­bi­bu,  pelaku melampiaskan nafsu birahinya kepada korban. Atas kejadian tersebut korban mengalami depresi berat. Ketika diajak bicara pun sudah  tidak nyambung.

”Anak saya sering mu­rung. Baru lulus SMP tahun ini,” kata Suadi, ayah korban, kepada awak media kemarin (27/9). Dia menyampaikan, kasus tersebut sudah berlanjut ke persidangan. Pihaknya mem­inta Pengadilan Negeri (PN) Sampang untuk menghukum   terdakwa seberat­-beratnya.

”Anak saya masih di bawah umur. Saya tidak tega melihatnya,” ujarnya dengan nada lirih.  Sementara itu, penasihat hu­kum korban, Nur Kholis, mengatakan, persidangan sudah  masuk pada keterangan saksi. Dalam persidangan kemarin,  dua orang dipanggil sebagai saksi. Yakni, korban sendiri  dan ayah korban.

”Saksi lain adalah S dan J, tapi tidak hadir,” katanya. Ditambahkan, MS men­jadi korban pencabulan dan  penculikan. Delik pasal yang  diadukan adalah pasal 81, 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 ten­   tang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya minimal  lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

”Kalau merujuk pada peraturan bisa 10–20  tahun atau hukuman kebiri,”  terangnya. Nur Kholis mengatakan, kasus pencabulan ini menjadi PR Pemerintah Kabupaten Sampang. Sebab, sesuai informasi yang didapat, perlindungan anak di Sampang itu sangat lemah dan minim tindakan. Maka dari itu, kasus tersebut menjadi bentuk perhatian semua pihak.

”Kami berharap  tidak ada korban serupa berikutnya,” tegasnya. Informasinya, terdakwa bu­kan hanya sekali dua kali diduga melakukan pemerko­saan. Baik dari kalangan anak di bawah umur maupun de­wasa. ”Cuma, korban dari aksi kebejatan pelaku tidak berani  melapor,” papar Nur Kholis.

Sementara itu, Humas PN Sampang Darmo Wibowo mengatakan, pihaknya belum  menerima berkasnya. Akan tetapi, dia akan menjalankan  tugas sebagaimana mestinya. Kebijaksanaan nantinya akan  dijalankan oleh majelis hakim yang seharusnya sesuai den­gan fakta-­fakta persidangan.

”Kita ikuti dulu persidangan­nya. Kami tidak berpikiran ke situ (putusan, Red). Kami serahkan kepada majelis yang sudah lebih tahu,” jelas pria asal Bandung itu. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • brita masaran
  • kasus pemerkosaan disampang tambelengan
  • mamat tambelangan sampang