Potong BSM, Wali Murid Berang

Buku Rekening Dipegang Sekolah

PAMEKASAN – Bantuan siswa miskin (BSM) untuk siswa MI Hidayatus Shibyan, Desa Tlontoraja, Kecamatan Pasean, Pamekasan, diduga disunat. Bantuan itu tidak utuh sampai kepada siswa. Siswa hanya menerima Rp 100 ribu. Padahal, BSM yang masuk  ke rekening siswa Rp 450 ribu.

Abd. Hamid, 36, salah seorang wali murid mengatakan, pihak sekolah memotong BSM yang merupakan hak anaknya. Pemotongan itu baru diketahui setelah pihak sekolah menunjukkan buku rekening anaknya. ”Anak saya hanya terima Rp 100 ribu, padahal di rekeningnya Rp 450 ribu,”  terang warga Desa Tlontoraja, Kecamatan Pasean itu kemarin (14/9).

Dia menjelaskan, anaknya mendapat BSM sejak 2014. Setiap tahun  pihaknya menerima bantuan tersebut dengan nominal yang berbeda.  Pertama sebesar Rp 50 ribu, kemudian pada 2015 Rp 60 ribu.  ”Saya tidak tahu kalau anak saya  punya buku rekening,” ungkapnya.

Selama ini buku rekening untuk siswa itu dipegang pihak sekolah. Hamid mengaku sangat kecewa atas  tindakan yang dilakukan pihak sekolah. Sebab, BSM tersebut sepenuhnya merupakan hak siswa, bukan guru.  ”Banyak wali murid yang kecewa dan tidak menyangka pihak sekolah bisa berbuat demikian,” keluhnya.

Dia  mengaku sudah menanyakan pemotongan itu kepada pihak sekolah. Menurut keterangan Hamid, pihak sekolah menerangkan jika BSM itu memang dipotong. Jadi,  tidak sama antara uang yang diterima siswa dengan di buku rekening. Pihak sekolah mengakui,  sebagian BSM itu diberikan kepada oknum lembaga swadaya   masyarakat (LSM).

”Katanya pihak sekolah, BSM diberikan Rp 100 ribu, karena Rp 10 jutanya diberikan ke LSM,” pungkasnya. Pengakuan yang sama juga disampaikan Fidah dan Fadil selaku wali murid. Anaknya juga mendapatkan Rp 100 ribu dari BSM. ”Kami berharap jatah BSM itu utuh  sesuai hak siswa,” pungkasnya.

Dikonfirmasi, Kepala MI  Hidayatus Shibyan, Mundir, membantah jika pihaknya melakukan pemotongan. Menurut dia, pemotongan  tersebut merupakan hasil kesepakatan dengan wali murid.  ”Ini masalah internal, dan sudah kesepakatan dengan wali   murid. Yang melapor itu mereka yang sentimen,” terangnya.

Sayangnya, Mundir tidak bisa menjelaskan permasalahan dengan terperinci atas dugaan pemotongan BSM itu. Alasannya, itu sudah kesepakatan  internal sekolahnya. Bahkan,  pihaknya meminta supaya  informasi dan laporan warga tersebut diabaikan.

”Sudah abaikan saja, dari polres sudah ke sini. Tapi tidak bisa memproses ini karena masalah internal,” pungkasnya. Sementara itu, Kepala Kemenag Pamekasan HM Juhedi mengaku belum tahu pasti mengenai dugaan pemotongan BSM tersebut. Oleh karenanya, dia tidak bisa berkomentar banyak.

”Kami akan menanyakan ke Kasi Pendma. Soalnya, sejauh ini yang menangani persoalan di bawah Kasi  Pendma,” pungkasnya. (radar)