Polisi-TNI ”Perang” Lawan Warga

Eksekusi Tanah Kredit Macet Bank

PAMEKASAN – Eksekusi tanah yang ditempati bangunan rumah di Desa Panempan, Kecamatan Kota Pamekasan, ricuh kemarin (6/4). Pemilik rumah Moh. Jauhari dibantu warga bersikeras menolak eksekusi.
Sebelum petugas melakukan eksekusi, sejak pukul 08.30 puluhan warga berkumpul di rumah Jauhari.

Tak lama kemudian, tim gabungan Polri dan TNI tiba di lokasi. Juru Sita Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan Sahwi membacakan surat penetapan eksekusi. Ratusan aparat merangsek masuk ke rumah Jauhari. Sementara warga pendukung Jauhari bersikukuh menghadang petugas.

Aksi saling dorong pun terjadi antara warga dengan petugas. Warga terus melakukan perlawanan dengan melempar batu dan cairan cabai. Tidak berhenti di situ, saat petugas berhasil mendobrak pagar yang terkunci, perlawanan warga kian sengit.

Warga melempar aparat dengan bensin yang dibungkus plastik. Bahkan puluhan bom molotov disiapkan warga untuk mengusir petugas. Untung, molotov tidak sempat dibakar. Perlawanan warga dinilai mengancam keselamatan. Petugas lantas mengeluarkan tembakan peringatan dan gas air mata.

Warga yang berada di dalam pagar rumah mulai kocar-kacir. Bahkan ada beberapa warga yang melompati pagar. Sementara sebagian lainnya diringkus petugas, termasuk Jauhari. Dia lalu digelandang ke luar rumah karena dianggap sebagai dalang utama penolakan eksekusi.

Dua jam kemudian, petugas sepenuhnya berhasil menguasai tempat eksekusi. Satu per satu warga yang berada di rumah dipaksa keluar. ”Kami menjalankan tugas negara. Kami diminta oleh PN Pamekasan membantu pengamanan eksekusi. Kami tidak punya kepentingan apa pun,” kata Kepala Satuan Sabhara Polres Pamekasan AKP Sarpan.

Eksekusi tanah dilakukan karena persoalan utang pemilik rumah dengan BRI. Tanah tersebut dinyatakan bukan lagi milik Jauhari. Sebab melalui proses lelang hingga ke pengadilan, tanah dinyatakan milik Saiful Bahar. Kepada Jawa Pos Radar Madura, Jauhari mengatakan, pada 2000 dia mengambil kredit ke BRI senilai Rp 100 juta. Kemudian pada 2003 dia menambah kredit ke BRI sebesar Rp 100 juta. Sejak 2009, pembayaran ke bank tersendat-sendat.

”Saya tetap bayar meskipun  tidak sepenuhnya menutupi utang ke bank. Terakhir utang saya ke bank Rp 200 juta lebih serta bunganya,” kata dia. ”Saya mendapat SP (surat peringatan) tiga kali. Ternyata tanah dan rumah saya sudah lelang. Ini yang membuat saya keberatan. Saya masih mau bayar,” imbuh mertua anggota Brimob tersebut.

Sementara itu, Panitera Muda PN Pamekasan Sujarwo Darmaji menjelaskan, pihaknya tidak sembarangan melakukan eksekusi tanah. Eksekusi, kata dia, sudah melalui prosedur dan mekanisme hukum yang benar. Berdasarkan risalah lelang, Jauhari mengambil kredit ke bank sejak 2000 hingga 2006. Pada 2008, Jauhari mulai macet menyetorkan cicilan kredit.

”Pada 2009, dikeluarkan  SP-1 hingga SP-3. Tapi Jauhari tidak mengindahkan SP itu. Kemudian pada 2011, dilakukan lelang atas permintaan BRI. Yang melaksanakan lelang KPKNL Pamekasan,” jelasnya. Pemenang lelang tanah milik Jauhari adalah Saiful Bahar, warga Kelurahan Kangenan, Kota Pamekasan.

Meski sudah ada pemenang lelang, Jauhari tetap tidak mau menyerahkan tanah tersebut. Dia malah meminta bantuan PN Pamekasan. ”PN memproses permintaan Jauhari. Namun di tengah-tengah proses itu, ternyata Jauhari mengajukan gugatan perlawanan. Pada 2012, PN menolak gugatan perlawanan tersebut dan menyatakan pemilik tanah tetap Saiful Bahar,” beber Darmaji.

Tidak berhenti di situ, Jauhari kembali menempuh jalur hukum, yakni banding hingga kasasi. Sayangnya, upaya itu tetap ditolak. Putusan kasasi turun pada Januari. Kedua belah pihak diberi tahu tentang itu. ”Berhubung putusan kasasi sudah turun, pemenang lelang yakni Saiful Bahar mengajukan permohonan eksekusi ke PN. Sebelum eksekusi dilakukan, pada 2 Maret PN dua kali melakukan panggilan dan teguran kepada Jauhari. Tapi dia tetap tidak mengindahkan,” katanya.

PN Pamekasan, imbuh Darmaji, ingin Jauhari menyerahkan sendiri tanah tersebut tanpa ada eksekusi. Tapi karena hingga April dia belum menyerahkan, terpaksa tanah itu dieksekusi. ”Kami meminta bantuan pengamanan dari kepolisian dan TNI,” tegasnya.

Di tempat terpisah, Saiful Bahar mengatakan, pihaknya hanya sebagai pembeli atau pemenang lelang tanah yang digelar BRI. Tapi Jauhari bersikukuh tidak mau melepas tanah tersebut. ”Padahal sudah jelas putusan pengadilan kami yang menang,” ucapnya.

Dia mengaku sudah mencoba menyelesaikan masalah tanah itu secara kekeluargaan. Saiful mengklaim tidak serta merta meminta eksekusi. Sebelum itu, dia mau menawarkan kompensasi Rp 25 juta-Rp 200 juta.

”Saya tidak habis pikir, menawarkan kompensasi juga tidak diindahkan. Padahal niat saya mau menyelesaikan secara kekeluargaan. Malah Jauhari minta kompensasi Rp 500 juta. Jelas saya keberatan. Ya akhirnya saya minta dieksekusi saja,” pungkasnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • foto Korban carok di pakong pamekasan