Polisi Rekonstruksi Pengeroyokan Wartawan

Perankan Cekik Ghinan

BANGKALAN – Polres Bangkalan menggelar rekonstruksi kasus kekerasan terhadap Ghinan Salman kemarin (23/9). Reka ulang dugaan pengeroyokan itu digelar di kantor dinas PU bina marga dan pengairan. Para saksi memerankan ulang adegan yang telah dilakukan.

Kali pertama, Ghinan hendak menemui Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pengairan Bangkalan Taufan Zairinsyah untuk keperluan berita. Namun, Taufan tidak ada di ruang kerjanya. Wartawan Jawa Pos Radar Madura  (JPRM) itu kemudian duduk  di ruang tunggu.

Dari ruang Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan, terdengar suara bola ping-pong. Ghinan mendekat dan memotret oknum pegawai  negeri sipil (PNS) yang sedang bermain tenis meja. Padahal, saat itu masih pukul 09.50 atau jam dinas.

Usai menjepret pegawai  yang main pingpong, Ghinan duduk kembali di ruang tunggu. Dua menit kemudian, lebih dari sepuluh pegawai mengintimidasi Ghinan. Pegawai tersebut marah-marah dan mencekiknya. Peristiwa mencekik leher tersebut merupakan adegan ke-19 versi korban.

Reka ulang nomor 20 merupakan aksi pengeroyokan. Ghinan tidak melakukan perlawanan saat dianiaya. Dia kemudian pergi meninggalkan kantor dinas tersebut. Lalu, menuju mapolres untuk melapor. Namun, pelaku mengelak telah melakukan peristiwa nomor 19 dan 20 itu.

Rekonstruksi tersebut melibatkan Ghinan selaku korban dan sepuluh terduga pelaku.  Mereka antara lain, Ronald Francis, Adita Fahma, dan  Sagitarius Putra. Kemudian, Hari Susanto, Abdul Halik, dan Surya Alam. Selain itu, Bambang Hariadi, Abdul Latif, Samsul Bahri, dan Jumali. Mereka masih berstatus sebagai saksi.

Kasatreskrim Polres Bangkalan AKP Adi Wira Prakasa mengatakan, ada 34 adegan dalam rekonstruksi kemarin, baik dari korban dan pelaku.  Pihaknya masih memproses hasil reka ulang tersebut. ”Hasil rekonstruksinya lapor Kapolres, baru bisa mengambil tindakan,” terangnya.

Wira mengungkapkan, tidak bisa mengambil kesimpulan dari hasil peran rekonstruksi versi korban dan pelaku. Pasalnya, hasil peran reka ulang dari kedua pihak tidak sinkron. Karena itu, polisi butuh waktu untuk menganalisis lebih matang. Dengan cara itu diharapkan bisa mengerucut  pada pelaku.

Selain itu, polres menunggu hasil visum Ghinan. Setelah itu petugas akan menetapkan tersangka.  Ketua Persatuan Wartawan  Indonesia (PWI) Bangkalan Jimhur Saros menegaskan,  pihaknya akan terus mengawal  kasus tersebut. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya yang melakukan  kekerasan kepada jurnalis.

”Sampai kapan pun kasus ini akan kami kawal sampai pelaku  ditahan,” terangnya. Jimhur mengungkapkan,  pelaku pengeroyokan bisa dikenakan pasal 170 KUHP tentang kekerasan. Selain itu,  pegawai yang berlagak seperti  preman itu bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor  40 Tahun 1999 tentang Pers.   Ke depan, diharapkan tidak  ada lagi kasus kekerasan kepada wartawan.

”Kami berharap polisi mampu mengungkap  kasus ini, sehingga menjadi  pembelajaran bagi yang lain,” pintanya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • Adita Fahma
  • akp adi wira prakasa di mutasi
  • proyek desa pangpajung 2016