Polisi-Mahasiswa Bentrok

PAMEKASAN – Puluhan aktivis mahasiswa dan pemuda menggelar demonstrasi di depan kantor bupati Pamekasan kemarin (1/12). Mereka mempertanyakan tiga hal yang dianggap menggagalkan kinerja pemkab.  Demonstrasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Revolusi (SAMAR) dan Kesatuan Aksi Pemuda Anti Korupsi  (KAPAK) di warnai kericuhan dengan  aparat kepolisian.

Pedemo-dicegah-oleh-rekan-rekannya-dalam-aksi-kemarin.

Pantauan koran ini, pedemo menyoal dugaan bocornya sumber pendapatan asli daerah (PAD). Terutama dari sektor retribusi pasar. Mereka  juga mempertanyakan serapan APBD  2015 yang masih rendah. Selain itu, pedemo menyoal pengelolaan pasar tradisional.

Mereka menyebut Pasar Waru dan pasar tradisional lain masih semrawut. ”Katanya  mau membangun kabupaten dari desa-desa. Bagaimana  mau membangun jika APBD  tidak terserap? Belum lagi  bocornya retribusi pasar di seluruh Pamekasan,” teriak  salah satu korlap aksi.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Pamekasan Alwi Beig tidak  langsung menanggapi tuntutan  mahasiswa. Dia hanya meminta perwakilan mahasiswa yang  boleh masuk ke dalam kantor bupati. Permitaan itu ditolak pedemo. Mereka meminta  semua peserta demo bisa masuk.  Namun, keinginan tersebut  tidak dikabulkan.

Alwi mengalah dan menanggapi tuntutan aktivis. Mahasiswa meminta Alwi duduk bersama di lantai  depan pintu utama kantor  bupati. Alwi pun meladeni  keinginan mahasiswa.  ”Serapan anggaran Pamekasan rengking enam dari 38 kabupaten/kota di Jawa  Timur sampai Oktober.

Saya rasa tidak perlu dijelaskan arti peringkat enam. Dari total APBD Rp 1,9 triliun, serapan  anggaran tahun ini 54,8 persen. Itu persoalan nasional,” paparnya. Selanjutnya, Alwi menjelaskan soal kesemrawutan pasar  tradisional.

Dia tidak menampik soal pengelolaan pasar dan berjanji akan memperbaiki. Belum tuntas menjelaskan rencana perbaikan, Alwi  memilih tidak melanjutkan  penjelasan. Dia keburu masuk  kembali ke kantor bupati. Sebab, saat menyampaikan  penjelasan, ada pedemo  yang nyeletuk.

Sanggahan  itu terkesan meremehkan penjelasan Alwi. Melihat sikap  Sekkab, mahasiswa tidak terima dan mencoba mengejar ke  dalam. Namun, upaya mereka  dihalangi puluhan aparat yang berjaga di depan pintu. Aksi dorong-mendorong  aktivis dan polisi tak terelakkan.

Emosi mahasiswa semakin memuncak saat rekan mereka ada yang kena pukul. Bentrok  dengan aparat pun terjadi. Sekitar lima menit kemudian, suasana kembali reda. Petugas kembali memberi kesempatan  kepada mahasiswa untuk  menyampaikan aspirasi.

Saat itu, mahasiswa diberi  kesempatan untuk melanjutkan  dialog di ruang Sekkab. Tapi,  tidak semua bisa masuk ke  ruang itu. Petugas membatasi  hanya 10 orang perwakilan.  Dialog pun gagal terlaskana karena aktivis terbelah jadi  dua kubu.

Kubu pertama setuju ada  perwakilan yang masuk menemui Sekkab. Sementara kubu yang lain ingin agar S kembali keluar dan menemui mereka. Saat 10 perwakilan  hendak masuk, kubu lainnya membubarkan diri.  Beberapa saat kemudian, 10 perwakilan terpaksa  menyusul juga membubarkan  diri.

Unjuk rasa itu selesai  tanpa mendapat penjelasan utuh dari Sekkab yang mewakili Bupati Ach. Syafii. ”Tentu kami kecewa karena pulang tanpa mendapatkan penjelasan dari persoalan  yang kami pertanyakan,” kata  Hakim selaku korlap aksi. (radar)