Polisi Lindungi Bandar ?

SUMENEP – Penangkapan bandar narkoba Muhammad Adi di Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, tidak membuat masyarakat puas. Sebab, dalam operasi itu polisi hanya mengamankan satu orang. Padahal, di pulau itu ada bandar lain yang terlibat dalam peredaran barang haram.

Jatim, 40, warga Kecamatan Arjasa, mengungkapkan, dalam operasi itu polisi tidak hanya menggeledah rumah Muhammad Adi di Desa Kalingayar. Setelah menangkap yang bersangkutan, petugas mendatangi dua rumah warga berinisial NR dan MD di Desa Kalisangka, kecamatan setempat.

Dua orang itu diduga kuat terlibat dalam jaringan peredaran narkoba di Pulau Kangean. Namun, ketika polisi tiba, mereka sudah tidak ada di lokasi. Dugaan kuat, pemilik rumah telah melarikan diri setelah mendengar akan didatangi aparat gabungan dari Polsek Arjasa dan Polres Sumenep.

Menurut dia, ada kesalahan dalam operasi itu. Mestinya polisi langsung menggerebek secara bersamaan. Sehingga, tidak ada kesempatan bagi mereka untuk meloloskan diri. ”Pertanyaannya, kok hanya Muhammad Adi yang ditangkap. Padahal, masih banyak bandar narkoba yang lebih besar dari dia,” terangnya kemarin (28/4).

Jatim mengatakan, dibandingkan bandar yang lain, Muhammad Adi tidak ada apa-apanya.  Ada bandar yang jauh lebih besar dan berpengaruh. Namun, sampai saat ini tidak pernah tersentuh hukum. ”Kalau Muhammad Adi itu hanya pengecer. Ada bandar yang lebih besar,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, dalam menjalankan aksinya, bandar tidak bekerja sendiri. Mereka ditengarai memiliki beking oknum aparat kepolisian. Sehingga, keberadaan mereka tidak tersentuh hukum. Bahkan, setiap bulan mereka disebutsebut membayar upeti kepada oknum tersebut.

”Sekitar enam juta setiap bulan,” terangnya. Anggota DPRD Sumenep asal Kangean Badrul Aini meminta polisi menangkap semua bandar narkoba di wilayahnya. Dia juga mengungkapkan, selain yang diamankan, ada bandar lain dalam jaringan peredaran narkoba di Pulau Bekisar itu.

”Semua orang di sini (Kangean, Red) tahu siapa oknum dan beking dari kepolisian,” terangnya. Karena itu, politikus PBB itu meminta polisi mengusut sampai tuntas. Dia meminta semua polisi di Kangean dites urine, darah, dan rambut. Sebab, ada oknum petugas polisi yang ditengarai sebagai pemakai aktif.

Kapolsek Arjasa Iptu Karsono mengakui, dalam operasi beberapa waktu lalu pihaknya tidak hanya menggeledah rumah Muhammad Adi. Anggota juga mendatangi dua rumah warga yang lain. Namun, saat anggota tiba, pemiliknya sudah tidak ada.

”Semua yang terlibat  penyalahgunaan narkoba pasti kami proses,” janjinya. Terkait dugaan keterlibatan oknum petugas, dia mengaku tidak tahu. Dia berdalih baru bertugas di Kangean. Dia berharap masyarakat melapor jika memang ada indikasi itu, sehingga bisa ditindaklanjuti. ”Dilaporkan saja,” pintanya.

Aparat gabungan polsek dan polres membekuk Mohammad Adi, 47, di Desa Kalinganyar, Rabu (27/4). Dari tangan tersangka, polisi menyita narkotika golongan I seberat 30,48 gram, HP, dan sejumlah barang bukti (BB) lain. Dia dijerat pasal 114 ayat 1, pasal 112 ayat 1 dan 2 Undang- Undang 35/2009 tentang Narkotika.

Ancaman hukumannya minimal lima tahun dan maksimal 20 tahun penjara. Juga, denda paling sedikit Rp
1 miliar. Tersangka mengaku, barang haram itu diperoleh dari Cipto, warga Kecamatan Kalianget. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • sikwap kangian