Petani Bawang Gagal Panen, Disperta Cuek

PAMEKASAN – Harapan petani meraup untung dari menanam bawang merah pupus. Dengan curah hujan yang tidak menentu, mayoritas petani bawang merah di Pamekasan gagal panen sehingga rugi. Kenyataan pahit itu dialami  Maksum, petani  bawang merah di Dusun  Kretek, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu.

Petani-Bawang-Gagal-Panen,-Disperta-Cuek

Saat ditemui di lahan pertaniannya kemarin, pria 70 tahun itu menuturkan, semua bawang merah yang ditanam dua bulan lalu busuk. ”Karena busuk, tentu saya rugi. Tahun ini kami gagal panen. Andai saja curah hujan normal dan tanaman bawang tidak penyakitan,  mungkin sepuluh hari lagi  saya panen,” katanya.

Dia menyampaikan, tahun-tahun sebelumnya setengah hektare lahan bisa menghasilkan satu kuintal bawang merah. Namun, tahun ini  satu kilogram saja beruntung. ”Dari awal menanam hingga  sekarang, ditambah biaya perawatan, modalnya mencapai  Rp 2 juta,” tuturnya.

Maksum menyampaikan,  selama menanam bawang merah, sama sekali tidak ada  bantuan bibit dari Dinas Pertanian  (Disperta) Pamekasan.  Jangankan bantuan bibit, sosialisasi  bagaimana cara menanam  bawang merah tidak ada.

”Saya asal berani saja. Apalagi, saat ini untuk mendapatkan uang sangat sulit. Yang penting, kami menanam. Masalah rugi atau untung belakangan. Yang penting, saya  sudah berusaha,” ucapnya. Dia sangat berharap disperta hadir kepada petani bawang merah. Namun, berhubung petani hanya orang kecil, mustahil mereka mendapat  kepedulian dari disperta.

”Saya ingin mendapat bantuan  bibit kalau memang ada. Tapi, kalau tidak ada ya tidak  apa-apa,” tukasnya. Kabid Hortikultura Disperta Pamekasan Mohammad Darham mengaku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu petani bawang merah yang gagal panen.

”Menanam bawang merah inisiatif petani. Kami juga tidak bisa memaksa kehendak mereka,” ungkapnya. Disperta mempunyai program  untuk petani bawang  merah. Namun, karena musim hujan kali ini kurang baik, program ditunda bulan lima  mendatang.

”Rencananya, dalam program itu kami akan  memberikan bantuan bibit dan sosialisasi mengenai waktu   yang pas menanam bawang merah,” ujarnya. Namun, petani harus mengikuti aturan main. Sebab, perawatan  tanaman bawang merah sangat sulit.

Mengenai petani belum memperoleh bantuan  bibit dan sosialisasi, Darham mengatakan, selama ini disperta menyampaikan bantuan  dan sosialisasi kepada kelompok tani (poktan). Hanya, bantuan bibit dilakukan   secara bergantian. Misalnya, tahun ini program atau    bantuan itu diberikan kepada   poktan wilayah utara, tahun  berikutnya ke wilayah selatan. ”Kami tetap berusaha hadir menemani petani,” terang Darham. (radar)