Perut Sudah Kempis, Biaya Rumah Sakit Rp 75 Juta

KONDISI Nurul masih lemah. Dia hanya bisa berbaring di gubuknya kemarin. Orang tua dia telaten mendampingi. Setelah dioperasi, Nurul belum bisa beraktivitas seperti  biasanya. Dia belum sembuh total. Jahitan bekas operasi dan kain putih  masih menempel di perutnya.

Wajah Nurul lebih ceria karena ada harapan sembuh dari penyakit. Kondisi  dia saat ini jauh berbeda dengan beberapa waktu lalu. Saat itu perut Nurul besar.  Tapi, kemarin sudah mulai kempis. Beberapa hari ke depan dia harus menjalani perawatan.

Obat-obatan, banyak di samping dia. Obat-obatitu harus dia minum sesuai petunjukdokter rumah sakit Surabaya. Petugas puskesmas setempat tiap hari mendatangi Nurul untuk mengontrol perkembangan kesehatannya.  Keluarga tersenyum melihat Nurul selesai dioperasi.

Apalagi, biaya operasi Rp 75 juta sepenuhnya dibantu dermawan. Para dermawan mengulurkan tangan membantu Nurul setelah ada pemberitaan di Jawa Pos Radar Madura (JPRM). ”Saya berterima kasih kepada Jawa Pos Radar Madura yang telah memberitakan kondisi anak saya.

Melalui pemberitaan di Jawa Pos Radar Madura, ada dermawan yang ikhlas membantu Nurul,” kata Sutiyah, ibunda Nurul. Dia pun menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dermawan yang telah ikhlas membiayai operasi  Nurul. Tanpa kepedulian dermawan, Nurul tetap berbaring  dengan kondisi perut yang besar itu.

Sebab, keluarga Nurul memang tidak mampu untuk membayar biaya operasi.  ”Saya berdoa, semoga yang membantu Nurul diberikan kesehatan dan rezeki yang baik oleh Allah. Terima kasih juga kepada pihak kecamatan yang ikut mendampingi kami,”  ujarnya berlinang air mata.

Proses operasi penyakit Nurul  butuh perjuangan. Perlu dua hari mencari rumah sakit  di Surabaya. Sebab, RSUD Dr  Soetomo Surabaya, yang kali pertama didatangi pada Senin  lalu (7/3), belum bisa  menangani dengan cepat.

”Saya konsultasi ke poli-poli yang ditunjuk. Namun saat  itu kami ditolak karena jadwal praktik khusus penyakit itu masuk Selasa dan Kamis. Terpaksa kami menginap di Surabaya dan keesokan harinya mengurus lagi. Tapi setelah bertemu dengan dokter yang menangani, kami masih dianjurkan  menunggu empat minggu untuk proses operasi,” ujar Trisno Hariyanto, aparat  Desa Larangan Luar.

Karena butuh penanganan cepat, pihak keluarga memutuskan mencari rumah sakit alternatif.  Saat itu pula Nurul dibawa ke Rumah Sakit Unair. Namun harapan agar bisa dioperasi di  rumah sakit itu juga gagal. Sebab  setelah diperiksa, peralatan medis untuk menangani penyakit  Nurul tidak memadai.

”Akhirnya kami menemukan Rumah Sakit Husada Utama pada Rabu (9/3) sekitar pukul  21.00. Di rumah sakit itulah Nurul  ditangani,” imbuh Suhairi, staf Kecamatan Larangan. Usai dioperasi, kondisi Nurul sempat mengkhawatirkan.

Dia belum sadar dan mengalami sesak napas. Di paru-paru Nurul ternyata ada penumpukan karbondioksida yang harus dikeluarkan. Atas dasar itulah  pihak rumah sakit meminta kesepakatan keluarga untuk dilakukan pengangkatan karbon  dioksida.

”Alhamdulillah, setelah itu Nurul  sadar dan dipindah ke ICU. Pada Kamis kami diperbolehkan  pulang. Berdasarkan keterangan doktrer, penyakit yang diderita Nurul yaitu tumor indung telur,”  ucapnya. (radar)