Periksa Saksi, Kejari Digeruduk Massa

Kasus Dugaan Penyimpangan Raskin Desa Poteran

SUMENEP – Pengusutan kasus  dugaan penyimpangan bantuan beras untuk masyarakat miskin (raskin) di Desa Poteran, Kecamatan Talango, berlanjut. Hanya, pemeriksaan saksi yang diagendakan Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep sedikit terganggu kemarin (1/3).

Perwakilan-warga-Desa-Poteran,-Kecamatan-Talango,-berkumpul-di-depan-kantor-Kejari-Sumenep-kemarin

Ratusan warga dari Desa Poteran melurug kantor kejari. Warga yang mendatangi kantor Korps  Adhyaksa kemarin yakni yang tidak terima kepala Desa (Kades) Poteran  diduga menyelewengkan raskin. Warga ramai-ramai datang ke kejari menggunakan pikap dan sepeda motor.

Saat tiba di kantor kejari, mereka dikawal puluhan polisi. Kedatangan warga tidak mengganggu pemeriksaan saksi. Sebab, perwakilan warga dimediasi pihak kepolisan dan kejari. Koordinator warga, Toyyib, mengatakan, kedatangan mereka ke kejari  bukan untuk mengganggu pemeriksaan.

Mereka hanya ingin menyampaikan kepada penegak  hukum bahwa dugaan penyimpangan  raskin tidak benar. Menurut dia, pembagian beras  secara merata yang dijadikan dasar  laporan sebenarnya berawal dari kesepakatan warga.

”Itu dilakukan bukan hanya oleh Kades yang  sekarang. Kades yang dulu juga  membagikan raskin secara merata  ke semua warga,” katanya.  Bahkan, sebelum pemilihan  kepala desa (pilkades),  pendistribusian raskin dilakukan  sesuai daftar penerima  manfaat  (DPM).

Tapi, warga menggelar aksi demo ke rumah Kades.  Warga menuntut raskin tetap  dibagikan secara merata.  Menurut Toyyib, dugaan penyelewengan raskin muncul setelah pilkades serentak. Karena  itu, dia meminta penegak hukum peka menangani kasus yang dinilai meresahkan masyarakat itu.

Dia menyatakan, kondusivitas warga tidak baik akibat kasus tersebut. Bahkan, kinerja Kades terganggu karena dipersoalkan dugaan penyelewengan kasus raskin. ”Kasihan  masyarakat,” ucapnya. Dia  berharap, kasus tersebut segera berakhir. Aparat penegak hukum hendaknya menghentikan kasus  yang bergulir sejak awal 2014  tersebut.

”Semoga yang melapor segera sadar demi kemajuan Desa  Poteran,” ujarnya.  Kepala Seksi Pidana Khusus  (Kasipidsus) Kejari Sumenep Agus Subagya mengatakan,  aksi turun jalan oleh warga merupakan  sesuatu yang biasa. Dia menilai, pro dan kontra di  masyarakat lumrah.

”Aksi warga  tidak mengganggu proses pemeriksaan.  Tahapan hukum berjalan sebagaimana,” katanya. Kasus dugaan penyelewengan  raskin di Desa Poteran kini tahap penyidikan. Korps Adhiyaksa mulai melakukan pemeriksaan  saksi-saksi. Hanya, dia mengakui hingga sekarang belum menetapkan  tersangka.

Alasannya, saksi yang diperiksa sukup banyak. Hingga kemarin, saksi yang  diperiksa 40 orang. ”Penyidikan  ini adalah tahap mengumpulkan  bukti-bukti untuk menetapkan  tersangka,” tegasnya.  Untuk diketahui, pada 2 Januari  2014, Tito Antok; warga Desa Poteran, melaporkan dugaan penyimpangan raskin. Dalam  laporan itu dijelaskan, bantuan  beras hanya diberikan 5–10 kali  dalam setahun. (radar)