Penderita Kusta Tertinggi Se-Jatim

Bukan Penyakit Kutukan dan Bisa Disembuhkan

SAMPANG – Jumlah penderita kusta di Sampang cukup banyak. Saking banyaknya, angka penderita kusta di Kota Bahari tertinggi se-Jatim (Jawa Timur). Pada 2014, tercatat 487 penderita kusta di Sampang, sedangkan pada 2015 ada 394 penderita.

Sampang dipilih sebagai daerah uji coba program pencegahan kusta atau kemoterapi profil  akses kusta. Program itu direncanakan berlangsung hari ini (16/3) di area Gor Wijaya Kusuma. Pencanangan program pencegahan kusta akan dihadiri World Health Organization (WHO) serta Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2MPL) Kementerian  Kesehatan (Kemenkes).

”Besok (hari ini, Red) dilakukan komitmen pencanangan eliminasi kusta,” kata Sekretaris  Dinkes Sampang Asrul Sani kemarin (15/3).  Sejak 2014–2015, jumlah penderita kusta di Sampang menurun. Yakni, berkurang 93 penderita. Karena itu, tingkat prevalensi kusta juga turun dari 4,89/10.000 menjadi 3,97/10.000 jumlah penduduk.

”Meski turun, penderita kusta di Sampang tetap tertinggi di  Jatim,” ungkapnya. Dengan data itu, Sampang masuk kategori darurat penyakit kusta. Sebab, suatu wilayah bisa disebut aman dari kusta jika tingkat prevalensinya kurang dari 1/10.000 jumlah penduduk. ”Untuk data 2016, kami belum rekap,” ujarnya.

Asrul mengimbau masyarakat memeriksakan diri ke puskesmas terdekat jika diketahui ada tanda-tanda dasar kusta. Misalnya, bercak-bercak putih di tubuh dan mati rasa. Dia menjelaskan, kusta memang penyakit menular. Tapi, tidak  semua orang bisa tertulari.  

”Contoh, kalau dalam satu  keluarga ada 10 orang, yang berpotensi terkena kusta dua orang. Faktor genetik juga memengaruhi,” jelasnya. Penyebab kusta beragam. Diantaranya, masyarakat tidak langsung melakukan pemeriksaan diri ketika ada tanda-tanda bercak putih dan mati rasa.  

Selain itu, sebagian masyarakat masih malu memeriksakan diri. Kusta juga dapat menular melalui kontak fisik yang lama dengan penderita kusta. ”Kusta merupakan penyakit biasa yang dapat disembuhkan  dengan pengobatan minimal  enam bulan,” tegas Asrul.

Untuk menekan angka penderita kusta, Dinkes Sampang bersama puskesmas-puskesmas melakukan langkah- langkah konkret. Misalnya, bersosialisasi kepada masyarakat. Bahkan, dinkes  mengklaim aktif datang ke sekolah-sekolah menjelaskan tentang kusta.

”Penderita kusta silakan periksa dan  pengobatannya gratis selama  enam bulan,” ajaknya.  Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana menyatakan,  tingginya penderita kusta juga menjadi perhatian legislatif. Karena itu, komisi IV bersama mitra kerja aktif mendorong masyarakat penderita  kusta melakukan pemeriksaan dan pengobatan. (radar)