Penambangan Pasir Marak Lagi

SUMENEP – Insiden pembakaran mobil pikap nopol W 8680 NL milik penambang pasir ilegal di Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten, Jumat lalu (2/10/2015), mulai luntur dari ingatan para penambang pasir.

Buktinya, sejak beberapa minggu terakhir, aktivitas pengerukan pasir laut secara ilegal kembali marak di wilayah tersebut. Para penambang leluasa mengeruk pasir di tepi laut sepanjang jalan Kecamatan Ambunten dan Pasongsongan.

Bahkan, pasir hasil tambang  diletakkan di pinggir jalan guna memudahkan pembeli menaikkan ke angkutan. Sayang, saat Jawa Pos Radar Madura melihat gundukan pasir, tidak satu pun penambang yang berhasil ditemui. Lokasi tersebut sudah sepi.

”Kalau di atas pukul 08.00, mereka (penambang, Red) pulang ke rumahnya masing-masing,” kata Nahrawi, 57, warga Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambuten, kemarin (29/4). Dia mengungkapkan, penambangan pasir ilegal mulai marak lagi. Aparat kepolisian juga tidak mampu bertindak untuk menghentikan aktivitas terlarang itu.

Menurut dia, hanya gerakan warga seperti pembakaran mobil yang terjadi Oktober 2015 silam, yang dapat menghentikan penambang. Sebab, penambangan pasir ilegal telah merusak lingkungan dan fasilitas umum (fasum). ”Masjid dan rumah warga miring, bahkan ada yang ambruk akibat penambangan liar,” ujarnya.

Terpisah, Kapolsek Ambunten Iptu Supardi tidak bisa dikonfirmasi. Nomor handphone (HP) yang biasa digunakan sehari-hari tiba-tiba tidak aktif. Sementara itu, Kapolsek Pasongsongan Ipda Abdul Holik membantah jika membiarkan aktivitas penambangan pasir ilegal.

Holik mengaku sering berpatroli di sekitar lokasi penambangan pasir. Bahkan, sudah beberapa kali Polsek Pasongsongan berhasil mengamankan mobil pikap pengangkut pasir ilegal untuk dimintai pertanggungjawaban. Pikap yang diamankan adalah pikap yang sering mengangkut pasir ”Penambangnya yang belum kami temukan,” katanya.

Namun, mengingat adanya informasi mengenai dugaan adanya penambangan, pihaknya berjanji akan maksimal dalam bertugas. ”Kami tetap komitmen memerangi penambang pasir illegal. Itu sesuai kesepakatan kami (para Muspika dan Pemkab Sumenep, Red),” tandasnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • asal usul desa ambunten
  • pasir pasongsongan