Pasien RSUD Membeludak

SUMENEP – Manajemen RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep nampaknya perlu memikirkan ketersediaan ruang rawat inap. Sebab, pada musim  tertentu, seperti musim hujan saat sekarang, pasien yang berobat membeludak. Sebagian di  antara mereka terpaksa dirawat di luar ruangan.

Pasien-RSUD-Dr-H-Moh.-Anwar-dirawat-di-luar-ruangan-kemarin.

Pantauan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), sejumlah pasien dirawat di emper kemarin  (18/2). Tempat tidur pasien dijejer di kanan dan kiri lorong. Akibatnya, jalan untuk masuk  ke ruangan jadi sempit. Keluarga pasien yang hendak  menjenguk kerabatnya harus  berdesak-desakan.

Tidak hanya di emper, ada salah satu pasien yang tempat tidurnya diletakkan tidak jauh dari kamar mandi. Sebab, sudah tidak ada lagi tempat untuk pasien. Kondisi itu tidak nyaman. Sebagian keluarga pasien mengeluhkan keterbatasan ruangan di rumah sakit pelat  merah tersebut.

Hanifah, 45, keluarga pasien, mengatakan, seharusnya suasana rumah sakit tenang. Sebab, pasien yang dirawat butuh istirahat yang cukup untuk proses penyembuhan. Namun, karena dirawat di emperan, pasien tidak bisa istirahat. Sewaktu-waktu ada keluarga  pasien lewat.

”Tapi mau bagaimana lagi, tak ada tempat,” kata perempuan asal Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, itu. Dia  berharap, pihak rumah sakit segera mencari solusi. Direktur RSUD Dr H Moh.  Anwar Sumenep Fitril Akbar  tidak menampik bahwa saat ini jumlah pasien membeludak.

Rata-rata pasien menderita penyakit dalam. Paling banyak penderita muntaber. Ada sebagian yang menderita demam berdarah dengue (DBD). ”Hampir semua jenis penyakit mengalami peningkatan jumlah pasien. Tapi tidak terlalu  signifikan,” katanya.

Fitril mengatakan, peningkatan itu salah satunya disebabkan cuaca. Mengingat, sekarang cuaca kurang baik. Bahkan, menurut dia, pada  musim ini, pasien memang cenderung meningkat. Terkait ruang perawatan,  dia mengaku, untuk penyakit   dalam hanya muat untuk 30  pasien. Sementara, pasien  saat ini mencapai 48 orang.  Akibatnya, terpaksa harus  dirawat di emper ruangan.

”Kami tidak boleh menolak  pasien,” ucapnya. Meski demikian, dia memastikan  perawatan dan pelayanan tetap sama. Tidak ada perlakuan berbeda, baik pasien di ruangan maupun di emperan. ”Hanya tempatnya saja. Kalau pelayanan  insya Allah tetap maksimal,”  pungkasnya. (radar)