Palsukan Dapodik, SMPN 3-Disdik Dilaporkan ke Kejari Sampang

SAMPANG – Dunia pendidikan di Kabupaten Sampang disorot. Pasalnya, ditemukan adanya dugaan pemalsuan data pokok pendidikan (dapodik) oleh pihak  SMPN 3 Sampang dan dinas pendidikan (disdik). Temuan kasus tersebut saat ini  dilaporkan Jatim Corruption Watch (JCW) ke Kejaksaan Negeri (Kejari)  Sampang Senin (22/8).

Pihakpihak yang diduga ikut bertanggung jawab dalam pemalsuan data  itu di antaranya, kepala SMPN 3, operator, dan pihak disdik. Dugaan pemalsuan dapodik tersebut mengakibatkan kerugian negara hingga ratusan  juta rupiah sejak awal Januari–Agustus 2016.

Dalam laporannya, Ketua  JCW Sajali menyampaikan,  SMPN 3 Sampang merupakan  salah satu sekolah yang diketahui memalsukan SK nomor  surat dan masa jabatan Kasek  termasuk terhitung mulai tanggal (TMT). Tindakan tersebut  berjalan mulus. Sebab, diduga  ada konspirasi antara Kasek,  bendahara SMPN 3 Sampang,  dan operator disdik.

”Untuk itu, kami meminta kejari memanggil dan menahan pelaku. Dia khawatir, yang  bersangkutan menghilangkan barang bukti,” kata Sajali. Laporan itu, lanjut dia, menjadi pintu masuk bagi sekolah lain. Sebab, diduga, masih ada Kasek lain yang memiliki kasus serupa.

Kajari Sampang Adhi Prabowo membenarkan telah menerima laporan dugaan pemalsuan data dari JCW. Dia mengaku segera menindaklanjuti laporan tersebut. ”Kami sudah  terima. Nanti pasti kami tindak lanjuti,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN  3 Sampang Akh. Junaidi tidak  membantah adanya informasi tersebut. Namun, dia membantah jika pemalsuan SK nomor surat dan TMT untuk  pencairan tunjangan dilakukan dirinya. Menurut dia, kesalahan itu dilakukan operator  dapodik Disdik Sampang.

Saat itu yang bertanggung jawab ialah Anwar Haryono. Ketika itu, kata dia, operator dapodik tengah dikejar deadline untuk mengumpulkan data yang akan disetor ke pusat.  Namun, karena masa jabatan Junaidi berakhir Desember 2015, data di dapodik bergaris merah alias invalid.

Dengan  demikian, tidak bisa dilakukan  pencairan apa pun. Junaidi mengaku langsung melaporkan kejadian itu ke disdik. Hasilnya, dia menerima SK  baru dari Anwar Haryono melalui operator dapodik bernama Burhan. Burhan, lanjut dia,  merupakan operator dapodik disdik yang tak lain adalah bawahan Anwar Haryono.

Namun, saat ditanya perihal SK, Junaidi menyatakan, SK dengan nomor  094/2231/434.101./2016 didapati bukan berbentuk surat  resmi. Melainkan, pesan singkat dan telepon. Junaidi memberanikan diri mengubahnya di data dapodik. Sebab, Burhan meyakinkan Junaidi bahwa SK ada di Kabid  Tendik Anwar Haryono.

”Ternyata jadi masalah begini dan kami jadi korban,” ujarnya ditemani operator dapodik SMPN 3 Sampang Nurul Kusaini. Saat ditanya pencairan tunjangan, Junaidi berdalih bertugas sebagaimana mestinya sesuai dengan aturan. Yakni, mengajar  dengan tatap muka selama 6  jam. Sisanya bertugas sebagai Kasek.

”Itu hak Saya. Makanya, ketika data saya invalid, saya langsung lapor untuk meminta solusi,” jelasnya. Dia berharap, persoalan itu segera selesai. Dia juga mengaku telah dimintai keterangan disdik pada Juli lalu. ”Ini masih menunggu keputusan. Kalau tentang laporan  kepada kejari, kami belum diberi tahu,” tukasnya.

Sementara itu, Kabid Tendik Disdik Sampang Achmad Mawardi menerangkan, pihaknya telah melakukan pemanggilan untuk dimintai  klariikasi perihal kasus tersebut. Berhubung Anwar Haryono dimutasi ke dinas lain, dia  menyatakan tidak bisa berkomentar banyak dan tidak dapat  menanyakan persoalan itu. Dengan begitu, berita acara pemanggilan (BAP) kasus tersebut  diserahkan pada inspektorat.

”Saat ini ditangani inspektorat,” jelasnya. Selanjutnya, disdik menunggu rekomendasi inspektorat yang akan ditandatangani  bupati. Sebab, yang berhak ialah  bupati. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • kasus smp 3sampang