Nopol Mobil Maut Bupati Sumenep Masih Misterius

mobil-bupati-sumenep-tabrak-pejalan-kaki-hingga-tewas

SUMENEP – Pelat nomor Pajero Sport hitam yang menewaskan seorang pejalan kaki masih menjadi misteri. Baik pihak polres maupun Pemkab Sumenep, sepertinya berupaya menyembunyikan kebenaran tentang nomor polisi (nopol) mobil tersebut.

Sabtu (24/9), Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Hasanuddin menyatakan bahwa Pajero Sport hitam yang menabrak Ismail hingga tewas merupakan milik bupati. Mobil yang kemudian diamankan di Mapolres Sumenep tersebut memakai pelat nomor L 1188 G.

Ditelusuri, nopol resmi L 1188 G ternyata bukan Pajero Sport hitam, melainkan Honda CRV putih orchid. Kemudian pada Minggu (25/9), Hasanuddin menyatakan L 1188 G bukan Pajero Sport hitam. Tapi dia tidak mau menyebut mobil itu memakai pelat nomor plasu.

Kata Hasanuddin, nopol tersebut pemberian diler. Kemarin (26/9), Kabag Humas dan Protokol Setkab Sumenep R. Moh. Diniyah Suyuti mengungkapkan, pelat nomor  Pajero Sport hitam yang terlibat  kecelakaan maut bukan L 1188 G, tapi L 1188 GX.   Dia mengklaim, L 1188 GX merupakan nopol yang diberikan diler.

”Diler tidak mungkin main-main memberikan pelat nomor,” katanya. Hanya, begitu ditelusuri, L 1188 GX merupakan nopol Honda Freed kuning emas. Menurut Didik, Pajero Sport  hitam itu merupakan mobil dinas kedua bupati yang biasa digunakan di lapangan. Sementara mobil dinas bupati untuk kegiatan sehari-hari adalah  Toyota Camry nopol M 1 VP.  Sementara mobil pribadi bupati   yaitu Pajero Sport putih mutiara dengan pelat nomor M 1 BY.

Kepala Bagian (Kabag) Umum  Setkab Sumenep Chainur Rasyid membenarkan Pajero Sport hitam yang terlibat keelakaan itu merupakan mobil dinas bupati. Mobil tersebut  dibeli sekitar satu bulan yang  lalu. Karena itu, mobil Pajero   Sport hitam hanya dilengkapi  surat tanda coba kendaraan  (STCK).

”Yang kami dapat dari instansi berwenang ya STCK itu,” ucapnya. Sementara itu, terkait kasus  kecelakaan, ternyata sejak Minggu sore (25/9) Turmidzi sudah  menjadi tersangka. Sopir bupati Sumenep berstatus pegawai negeri sipil (PNS) itu bahkan  sudah ditahan.

”Sebenarnya tersangka tidak  mau kami tahan. Tapi yang bersangkutan meminta tetap di  sini (unit laka lantas, Red) agar proses pemeriksaan mudah,”  kata AKP Hasanuddin yang kemarin (26/9) ditemani Kanit  Laka Lantas Polres Sumenep Ipda Marliyanto.

Pemeriksaan saksi masih berlanjut. Selain tersangka, polisi juga memeriksa tiga saksi lain. Sayangnya, baik Hasanuddin maupun Marliyanto tidak mau menyebut identitas para  saksi. ”Kami tidak bisa sebutkan nama,” ujar Kasubbaghumas.Bersama siapa Turmidzi di dalam mobil saat menabrak  korban? Hasanuddin enggan memberi tahu.

”Nanti kalau pemeriksaan sudah rampung, kami beri tahu,” kelitnya. Tersangka, kata dia, akan dijerat Pasal 310 ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Ancaman  hukuman maksimal enam tahun penjara.

Menyikapi status tersangka  sopir bupati, Kabag Hukum  Setkab Sumenep Setiawan  Karyadi mendatangi Mapolres Sumenep kemarin. Dia mengaku berkunjung menemui Turmidzi. Dia berjanji akan memberikan bantuan hukum kepada PNS yang  tesandung kasus kecelakaan lalu lintas tersebut.  Setiawan enggan memberi- kan tanggapan perihal mobil  dinas bupati yang diduga menggunakan pelat nomor  palsu.

”Maaf, kami ke sini hanya ingin bertemu PNS (Turmidzi, Red). Lain-lainnya  kami serahkan kepada Pak  Polisi,” ucapnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • kabag hukum sumenep
  • nopol madura