Motif Penyebaran Foto Mesra Anggota Dewan

PAMEKASAN – Kontroversi tersebarnya foto mesra anggota DPRD Pamekasan IS (inisial) di media sosial (medsos) berlanjut. Kemarin (17/3), istri sah IS  yakni Ike Handayani, 39, angkat bicara. Penyebaran foto-foto  mesra itu, kata dia, merugikan  keluarga besarnya.

”Tindakan perempuan yang menyebarluaskan foto suami saya sangat merugikan keluargasaya,” kata Ike saat menggelar jumpa pers kemarin. Dia menjelaskan, foto-foto itu disebarkan setelah terjadi cerai. Seandainya foto-foto tersebut disebarkan ketika masih sah suami istri, Ike tidak mempersoalkan.

Foto-foto itu sengaja disebarkan, sambungnya, karena IS tidak mau berhubungan lagi dengan perempuan berinisial AMCS karena memang telah ditalak. Ike merasa, suaminya menjadi korban AMCS. Apalagi, AMCS berjanji tidak akan mengganggu keluarganya.

”Usai menjatuhkan talak, saya berikan dia (AMCS, Red) uang. Tapi setelah itu, dia SMS saya dan meminta uang tambahan  sekitar Rp 2 juta. Mulai saat itu saya berpikir kalau selama ini suami saya dijadikan ATM berjalan,” urai Ike.

Informasinya, sudah banyak laki-laki lain yang menjadi korban AMCS. Bahkan Ike  pernah menawarkan kepada AMCS agar menikah dengan laki-laki lain. Padahal waktu itu, Ike baru dua hari kenal dengan AMCS.

”Saya masih beruntung tidak seperti korban lainnya. Dan tolong urusan rumah tangga saya tidak dibesar-besarkan, karena Islam tidak melarang laki-laki beristri lebih dari satu. Kecuali saya tidak terima dan  saya menuntut,” kata Ike.

Dia menegaskan, hubungan  IS dengan AMCS bukan  perselingkuhan. Sebab  AMCS dinikahi sesuai dengan aturan agama. Ike mengaku mengetahui hal itu. ”Suami  saya jujur kepada saya kalau menikah lagi. Jadi saya tahu perempuan itu karena beberapa kali main ke rumah. Jadi ini bukan perselingkuhan. Alhamdulillah keluarga kami  tetap utuh,” jelasnya.

Mengenai perceraian suami  IS dengan AMCS, Ike mengaku juga mengetahui. Bahkan dia menjadi saksi. IS menalak AMCS karena sudah tidak ada kecocokan. ”Saya dengan perempuan itu (AMCS, Red) sempat pelukan. Dia berjanji  tidak akan mengganggu suami saya. Tapi kenyataannya, suami saya masih dihubungi agar  menemuinya. Kalau suami saya tidak menemui, dia mengancam macam-macam,” beber Ike.

Sementara itu, Wakil Sekretaris DPC PPP Pamekasan Ali Masykur menegaskan, hubungan IS dengan AMCS tidak  melanggar aturan agama. Sebab  mereka sudah menjalani pernikahan secara sah. Karenanya, hubungan IS dengan  AMCS bukan perselingkuhan.

”Perselingkuhan dan nikah jauh berbeda. Foto yang tersebar itu diambil ketika mereka memang masih menjadi suami istri, tapi disebarluaskan ketika sudah bercerai. Pelaku penyebaran foto itu yang bisa dipermasalahkan,”  katanya.

Mengapa AMCS ditalak? Menurut Ali Masykur, karena perempuan itu memeras IS.  AMCS, sebut dia, selalu meminta  uang dengan jumlah  cukup besar. Selama menjadi  suami istri sekitar satu setengah bulan, sudah puluhan juta dihabiskan IS untuk AMCS.

”Dalam dua hari, perempuan  itu minta Rp 2 juta bahkan kadang Rp 5 juta. Saya kira tindakan itu pemerasan secara  halus. Saya yakin kalau hanya  sekelas anggota dewan, tidak ada yang mampu memenuhi biaya hidup perempuan seperti  itu. Makanya ditalak,” ujarnya.

Terpisah, dihubungi melalui telepon, AMCS tidak banyak berkomentar. Kata dia, tudingan dirinya meminta nafkah dengan jumlah besar hanya alibi. ”Itu alibi saja, saya tidak mau melayani alibi,” katanya lalu menutup telepon.

Pengamat Hukum Ahmad Muhlisin mengatakan, penyebar foto mesra di medsos itu bisa dikenakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008  tentang ITE. Penyebar, apabila  ada pihak yang merasa dirugikan, bisa dituntut secara  hukum. Apalagi foto itu berbau  pornografi dan masih diragukan  keasliannya.

”Saya sarankan, jangan sembarangan menyebarkan foto berbau pornografi. Terlebih foto itu sifatnya konsumsi pribadi. Karena bisa saja yang dirugikan tidak terima, lalu menempuh jalur hukum,” tandasnya. (radar)