Masih Kemarau Sudah Banjir

Empat Kelurahan dan Lima Desa Terendam

SAMPANG – Kota Sampang sudah direndam banjir. Padahal saat ini masih musim kemarau basah. Banjir dipicu hujan lebat yang terjadi sejak Sabtu (24/9). Hingga kemarin siang (25/9), sedikitnya empat kelurahan dan lima desa digenangi air bah luapan Kali Kemuning.

Empat kelurahan dimaksud yaitu Dalpenang, Gunung Sekar, Polagan, dan Rong Tengah. Sementara lima desa yang terendam banjir yakni Kamoning, Pangelen, Tanggumong, Panggung, dan Gunung Maddah. Rata-rata ketinggian banjir di lima desa dan empat kelurahan tersebut 80–120 sentimeter.

Kepala BPBD Sampang Wisnu Hartono mengatakan, pihaknya mengantisipasi dan melakukan pemantauan banjir bersama tim.  Dia belum memastikan apakah akan ada banjir susulan lagi. ”Kita lihat perkembangannya. Kalau hujannya deras dan  lama, kemungkinan ada banjir  susulan,” katanya.

Menurut Wisnu, butuh delapan jam untuk bisa memprediksikan banjir susulan. Jika berpotensi terjadi banjir susulan, pihaknya akan menginformasikan kepada warga.  ”Kami pasti informasikan kepada masyarakat melalui lurah, kepala desa, radio, dan grup  WhatsApp (WA),” ujarnya.

Kepala Dinsosnakertrans Sampang Malik Amrullah menyampaikan, pihaknya membuka dapur umum untuk warga yang terkena banjir. Dapur umum ada di Jalan Semeru, Jalan Pahlawan (Stinggil), Desa   Pasean, dan posko Palang Merah Indonesia (PMI) Sampang.

Ada pembagian wilayah dalam membagikan makanan kepada korban banjir. Yakni, wilayah timur Kali Kemuning sampai ke Desa Panggung  ditangani dinsosnakertrans.  Sementara di wilayah barat sungai tanggung jawab PMI.” Ada dua kali bantuan makanan, yaitu siang dan malam.  Untuk makan malam, dibagi-  kan sejak sore hari,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Manajer PLN Rayon Sampang Umar  Solihin mengatakan, akibat banjir, pihaknya memadamkan 22 trafo. Yaitu trafo di Desa  Tanggumong, Desa Kamoning,  Jalan Panglima Sudirman, dan Jalan Bahagia.  Trafo di Jalan Imam Bonjol, Jalan Pahlawan, Jalan Suhadak, Jalan Melati, Jalan Delima, dan Jalan Teuku Umar juga dipadamkan.

”Hinga sore (kemarin,  Red) 21 trafo masih padam. Satu  trafo di Desa Tanggumong sudah  kami nyalakan,” katanya. Tidak hanya mengganggu fasilitas listrik, banjir juga membuat arus lalu lintas di wilayah Kota Sampang kacau. Polisi Lalu Lintas (Polantas) Sampang menerjunkan 52 personel untuk mengatur arus lalu lintas.

Polantas bahkan berkoordinasi dengan Polres Bangkalan agar mengalihkan kendaraan besar ke jalur pantai utara (pantura). Lalu lintas antar kabupaten diatur melewati dua jalur. Yakni, jalur Jalan Syamsul Arifin dan Jalan Makbul. Sementara di jalur utama seperti Jalan Panglima Sudirman, Jalan Imam Ghazali, dan Jalan  Trunojoyo tidak bisa dilintasi kendaraan.

Sebab ketinggian banjir hingga lutut orang dewasa. Bahkan di Jalan Imam Bonjol, ketinggian banjir hampir mencapai dada orang dewasa. Untuk mengantisipasi kekacauan lalu lintas, polantas  telah menyebar puluhan personel di enam titik. Yaitu Jalan Jamaludin, Jalan Syamsul Arifin, Jalan Agus Salim, Jalan  KH Wahid Hasyim.

Selain itu, dua titik lagi terdapat di Jalan Jaksa Agung Suprapto. Kapolres Sampang AKBP Toik   Sukendar melalui Kasatlantas Polres Sampang AKP Mala Darlius Nanda Kurniawan mengatakan, pengalihan arus lalu lintas  untuk mengantisipasi kemacetan. ”Kami upayakan arus lalu lintas tidak lumpuh,” katanya.

Perwira polisi dengan tanda pangkat tiga balok emas di pundaknya itu menambahkan,  pihaknya telah berkoordinasi dengan Polres Bangkalan. Jika  ada kendaraan besar seperti truk dan container agar dialihkan ke jalur pantura. ”Itu untuk  menekan volume kendaraan   yang masuk ke Sampang,” tukasnya. (radar)