Makam Leluhur Digusur, Warga Desa Lapa Daya Meradang

Investor Tambak Udang Ngaku Sudah Koordinasi dengan Kiai

SUMENEP – Warga Dusun Muara, Desa Lapa Daya, Kecamatan Dungkek, Sumenep, meradang kemarin (4/9). Pemicunya, area kuburan di dekat tambak udang digusur menggunakan alat berat. Investor tambak udang dianggap merusak dan menginjak- injak kesakralan makam leluhur.

Pantauan Jawa Pos Radar Madura, sekitar pukul 09.00 puluhan warga mendatangi areal kuburan yang berada di dekat tambak udang. Mereka berupaya menghentikan aktivitas pengerjaan tambak udang. Sebab, sehari sebelumnya, puluhan makam digusur.

Warga menerima informasi bahwa tulang yang ditemukan dari kuburan dipindah ke karung. Warga meminta para pekerja, utamanya pemodal tambak udang, tidak  melanjutkan penggusuran makam. Kuburan yang sudah kadung digusur, disuruh dikembalikan ke tempat semula.

Warga  memasang plang bertuliskan ”Kuburan Jangan Digusur” tepat di atas area makam. Koordinator Masyarakat Lapa  Bersatu (MLB) Imamul Arifin mengungkapkan, warga sangat  marah kepada investor tambak  udang yang menggusur area pemakaman. Apalagi penggusuran dilakukan tanpa ada koordinasi  dengan warga. Kedatangan warga ke makam untuk mencegah para pekerja tambak udang main bongkar seenaknya.

”Beberapa kuburan sudah digusur. Kami bergerak agar penggusuran makam tidak dilanjutkan oleh pekerja tambak udang,” katanya. Imam  menjelaskan, makam-makam  yang sudah jadi korban penggusuran harus dikembalikan ke posisi semula.

Warga melarang investor melanjutkan pembangunan tambak udang bukan tanpa alasan. Sebab, tanah yang menjadi area kuburan tidak termasuk yang diperjualbelikan. ”Saksinya ada warga sini.  Saat pengukuran terakhir, tanah yang di atasnya terdapat kuburan tidak diikutsertakan oleh H Abud selaku pemilik tanah. Alasannya, karena banyak makam,” jelas dia.

Namun hal itu tidak diindahkan oleh investor. Pemilik modal tiba-tiba melakukan penggusuran kuburan. ”Jelas kami tidak terima. Apalagi warga  Desa Lapa Daya menganggap kuburan sesuatu yang sakral sehingga tidak boleh digusur atau dipindah,” ucapnya.

Imam menyatakan, investor tambak udang ingin cari masalah. Sebab, jelas-jelas  tanah itu tidak diikutsertakan dalam jual beli, tapi malah digusur. ”Itu sama halnya dengan mengajak ribut. Warga Lapa Daya akan terus mengawal dan melakukan pemantauan pembangunan tambak  udang,” katanya.

Selama ini warga Desa Lapa Daya diam. Tapi, bukan berarti tidak ingin bertindak.  Sejauh ini investor tambak udang masih membeli tanah  sesuai prosedur. Untuk kasus pembongkaran kuburan, jelas  tidak bisa diterima warga. ”Makam dibongkar atau dipindah, aib bagi warga. Apalagi   untuk kepentingan bisnis. Makanya kami menolak keras,”  tegas Imam.

Sukamto, perwakilan investor  tambak udang, mengakui bahwa sebidang tanah yang menjadi area pemakaman tidak termasuk  dalam jual beli. Hanya, dia beralasan, tanah kuburan itu ada di dalam sertiikat. Dia menyampaikan, pihaknya  bukan menggusur kuburan,  melainkan memindah ke tempat yang lebih layak.

Pemindahan kuburan itu, klaim Sukamto, mendapat persetujuan dari salah satu tokoh masyarakat dan pihak pemerintah desa.  ”Daripada tidak terawat, lebih  baik kuburan dipindah. Kami  sudah koordinasi dengan kiai. Tidak masalah makam dipindah,” katanya.

Danramil 0827/17 Dungkek Kapten Inf Galang Prayitno yang datang ke lokasi berupaya menengahi warga dan perwakilan investor. Dia mengusulkan duduk bersama dengan para tokoh masyarakat dan pemerintah desa. ”Warga silakan pasang tanda di area kuburan. Tapi, untuk penyelesaian masalah, harus duduk bersama dengan tokoh masyarakat dan pemerintah  desa,” sarannya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • kasus desa lapa daya
  • makam disumenep digusur untuk dibuat tambak udang
  • seputar berita desa lapa daya