Keluarga Pelapor Terancam

Puluhan Kades  Datangi Rumah Aktivis LSM

SUMENEP – Kedewasaan hukum di Sumenep rupanya masih rendah. Indikasinya, sekitar 60 kepala desa (Kades) mendatangi rumah Koordinator LSM Lidik Hukum dan HAM A. Effendy. Mereka mengancam pelapor dugaan kasus penyelewengan bantuan raskin tersebut.

Tindakan itu diduga buntut laporan yang dilayangkan ke kejaksaan negeri (kejari) beberapa waktu lalu. Pepen –sapaan A. Effendy- melaporkan Kades se-Sumenep ke kejari. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di lokasi, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 11.30.

Sebelum mendatangi rumah Pepen, para Kades terlebih dahulu mendatangi kantor kejari. Mereka mempertanyakan laporan dugaan penyimpangan raskin. Kemudian, mereka bergeser ke rumah Pepen di Desa Pandian, Kecamatan Kota.

Orang yang mereka cari tidak ada di rumah. Mereka ditemui Nur  Frida, ibu Pepen. Dia menjadi bulan-bulanan para Kades. Perempuan yang tidak tahu duduk perkara tersebut diancam akan diperkosa. Akibatnya, Nur Frida shock dan sempat pingsan.

Tak lama kemudian Pepen tiba. Amarah para Kades kian memuncak. Pepen mengaku, saat itu dia dilempari dengan batu. Beruntung tidak ada korban dalam insiden tersebut. Pepen mengatakan, pagi sebelum kejadian, ada seorang Kades datang ke rumahnya. Si Kades itu  meminta untuk mencari solusi terkait laporan penyimpangan raskin yang dilaporkan. Namun, dia tetap bersikukuh menegakkan hukum yang berlaku.  Dia ingin penyimpangan raskin tetap harus diusut.

”Si  Kades itu bilang ke saya, ”kalau tidak ada solusi kamu diancam akan dibunuh”,” katanya menirukan ancaman tamunya itu. ”Oh, silakan saja,” katanya. Siangnya, puluhan Kades itu mendatangi rumahnya. Baginya, kedatangan mereka tidak jadi persoalan. Dia sangat menyayangkan karena salah satu Kades nyaris menampar Nur Frida. Bahkan, mengancam akan memperkosa ibunya itu. 

Akibat insiden tersebut, dia akan melaporkan ke Polda Jatim terkait ancaman pembunuhan. ”Secepatnya akan saya laporkan. Saya tidak akan tinggal diam,” ancamnya. Sementara itu, Sekretaris AKD Sumenep Ubaidillah membantah pengakuan ancaman pembunuhan dan pemerkosaan tersebut.

Dia mengaku, kedatangan para Kades ke rumah Pepen berniat baik. Mereka ingin mengklarifikasi pelaporan raskin itu. Awalnya, kata Ubaid, AKD dan Pepen berencana ketemu di kantor kejari. Namun, si pelapor tidak hadir, sehingga para Kades ingin silaturahmi ke rumah.

”Kedatangan kami baik. Tapi ditanggapi lain,” katanya. Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Hasanuddin mendengar informasi itu. Bahkan, sebagian Kades melaporkan Pepen ke polres karena diduga melempari mereka dengan batu. Akibatnya, ada yang terluka.

”Yang jelas, akan diproses sebagaimana mestinya,” tegasnya. Beberapa waktu lalu, Pepen melaporkan seluruh Kades ke Kejari Sumenep. Laporan itu terkait dugaan penyimpangan pendistribusian raskin 2015. Dia hanya tidak melaporkan Kades dan lurah di Kecamatan Kota. (radar)