Keluarga Pelapor Raskin Mengungsi

SUMENEP – Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, pelapor penyelewengan raskin di Sumenep, A. Effendi dan keluarganya terpaksa mengungsi. Untuk sementara mereka tinggal di rumah salah satu familinya. Pria yang akrab disapa Pepen itu merasa tidak aman.

Puluhan kepala desa (Kades) di Sumenep, mengancam akan membunuh dan memerkosa anggota keluarganya. ”Kami takut nasib klien kami sama seperti Salim Kancil,” kata kuasa hukum Pepen, Supyadi kepada wartawan kemarin (8/4).

Supyadi menjelaskan, Pepen juga sudah meminta perlindungan kepada aparat kepolisian. Itu dilakukan agar bisa aman dari serangan Kades. Selain itu, Pepen juga mendatangi Mapolda Jatim kemarin. Dia melaporkan perusakan dan pengancaman yang dilakukan Asosiasi Kepala Desa (AKD) dua hari lalu.

Malah, surat laporan itu juga dikirim ke Komnas HAM, Ombudsman, Kompolnas, Kapolri, Kemenkum HAM, dan DPR RI. ”Ini bukan hal sepele, karena itu harus diusut tuntas. Jangan menunggu sampai ada korban seperti tambang di Lumajang,” tegas Supyadi.

Menurut dia, insiden datangnya puluhan Kades dan ancaman pembunuhan serta ancaman pemerkosaan itu tidak bisa ditoleransi. Penegak hukum harus memberi efek jera terhadap para orang nomor satu di pemerintahan desa itu.

Sebab, sebagai pemimpin, seharusnya Kades memberi contoh baik dalam menyelesaikan persoalan. Bukan justru bersikap arogan dan urakan. ”Kades jangan hanya mengandalkan keberaniannya,” katanya. Namun sebagai orang yang paham hukum, adu fisik dan saling jotos bukan menjadi solusi. Tapi, setiap persoalan harus diselesaikan melalui proses hukum yang berlaku.

”Tidak ada ceritanya kami mundur dalam masalah ini,” katanya. Ketua AKD Sumenep Imam Idhafi menanggapi santai laporan Pepen. Menurut dia, setiap orang memiliki hak untuk melapor ke polisi. Silakan saja, itu hak dia,” kata Idhafi.

Tetapi, sambung dia, AKD juga melaporkan ibu Pepen, yakni Nur Frida ke polisi. Hal itu karena dia telah melempar kapak kepada salah satu Kades hingga mengalami luka di betis. Disinggung mengenai tudingan ancaman pembunuhan dan pemerkosaan, dia membantah keras.

Dipastikan, tidak ada Kades yang melontarkan ancaman itu. Hanya, dia tidak memungkiri bahwa Kades sempat naik pitam. Sebab, ketika tiba di rumah Pepen di Desa Pandian, Kecamatan Kota, mereka disambut dengan omelan Nur Frida.

Meski  sempat emosi, Kades masih bisa menahan dan tidak melakukan perbuatan yang melanggar hukum. ”Kades adalah orang tua masyarakat, mana ada orang tua mengancam anaknya untuk dibunuh,” katanya. Sebelumnya, puluhan Kades mendatangi rumah Pepen. Mereka ingin mengklarifikasi  laporan aktivis LSM itu terkait penyelewengan raskin. Namun,  bukan solusi yang mereka dapat, tapi justru masalah yang blunder. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • pepen sumenep