Kasmito Nyaris Jadi Bulan-bulanan Massa

Polemik Dugaan Rekayasa SK Pengangkatan Perangkat Desa

SUMENEP – Dugaan rekayasa surat keputusan (SK) pengangkatan perangkat Desa Poreh, Kecamatan Lenteng, Sumenep, berbuntut panjang. Kasmito, warga desa setempat yang mempersoalkan dugaan rekayasa SK itu nyaris dimassa kemarin (24/9).

Ironisnya, tindakan mau main hakim sendiri tersebut terjadi di kantor DPRD Sumenep. Beruntung, Kasmito diselamatkan dari amukan massa.  Tidak ada korban jiwa dalam insiden tak dinyana tersebut. Pantauan Jawa Pos Radar Madura, Kasmito bersama sejumlah warga Desa Poreh tiba di kantor dewan sekitar pukul 13.00.

Mereka bertemu komisi I membicarakan dugaan rekayasa SK pengangkatan perangkat desa.  Tidak lama kemudian, komisi yang dinakhodai Darul Hasyim Fath itu menerima  Kasmito dan kawan-kawan.  Pria yang juga pengurus partai itu menyampaikan secara detail dugaan rekayasa SK.

Selang beberapa menit, ratusan massa yang tidak sependapat dengan Kasmito mendatangi kantor dewan. Mereka menggunakan mobil pikap dan beberapa mobil pribadi. Jumlah mobil yang  dikendarai cukup banyak,  yakni sekitar 30 unit.

Massa yang seperti kesetanan itu langsung masuk kantor dewan. Mereka meminta Kasmito keluar dan mencabut aduan terkait dugaan rekayasa SK. Massa menilai, yang diadukan Kasmito tidak benar. Menghindari amukan massa, Kasmito tidak dibiarkan menemui ratusan warga secara  langsung.

Dia diapit dan dilarikan dari kerumunan warga. Melihat Kasmito keluar, massa mengejar dan nyaris melakukan kekerasan. Beruntung, kawan Kasmito yang juga ikut audiensi menyelamatkan dan membawa  keluar dari kantor dewan.

Massa masih berkumpul dan beberapa menit berselang, mereka kembali ke mobil masing-masing, lalu pulang. Koordinator massa Bambang  mengatakan, warga menilai, Kasmito biang kegaduhan di Desa Poreh. Pengaduan mengenai dugaan rekayasa SK pengangkatan perangkat desa itu tidak benar.

”Pengangkatan  perangkat desa sudah prosedural,” katanya.  Bambang mengatakan, Kasmito mempersoalkan SK itu karena faktor politis. Dia dikabarkan bakal nyalon Kades melalui jalur pengganti antar waktu  (PAW). Begitu pula dengan AG, anak mantan Kades setempat itu juga digadang-gadang masuk bursa pencalonan.

Nah, karena Kasmito takut kalah di persyaratan, akhirnya mencari celah agar AG gagal mencalonkan diri. Tindakan itu  membuat masyarakat geram.  Ulah Kasmito dinilai berlebihan dan tidak bisa ditoleransi. Masyarakat merasa terpanggil untuk melawan oknum  yang mengganggu keharmonisan di desa yang tidak memiliki Kades definitif itu.

”Masyarakat akan mengawal terus persoalan ini,” katanya. Sementara itu, Kasmito membantah jika pengaduannya ditunganggi faktor politis. Pengaduan itu murni dilakukan demi profesionalitas administrasi. ”Saya dikabarkan sering menjelek-jelekkan AG. Itu sama sekali tidak benar,”  katanya.

Dia mengaku masih memiliki hubungan famili dengan  AG. Dengan demikian, tidak  mungkin jika dia menjatuhkan citra AG di mata masyarakat hanya karena urusan pilkades. ”Sangat disayangkan, massa itu bukan murni dari masyarakat Desa Poreh. Tetapi ada warga  desa lain yang juga ikut campur. Saya tidak pernah punya masalah dengan masyarakat Desa Poreh,” katanya.

Ketua Komisi I DPRD Sumenep Darul Hasyim Fath enggan mengomentari kedatangan massa. Dia berjanji akan terus  mengawal masalah tersebut.  ”Dalam waktu dekat kami akan  menggelar rapat pleno membahas pengaduan masyarakat ini,” tandasnya.

Untuk diketahui, beberapa waktu lalu Kasmito mendatangi kantor dewan untuk memasukkan permohonan audiensi. Materi audiensi terkait dugaan  rekayasa SK pengangkatan perangkat desa. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • darul hasyim fath