Jutaan Rumah Tak Tersentuh PLN

PENGEMBANGAN listrik di Sumenep lamban. Hingga 2015 banyak rumah warga yang belum teraliri listrik PLN. Berdasarkan data Kantor Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemkab Sumenep, rumah yang teraliri listrik 52,49 persen. Sementara 47,51 sisanya belum menikmati listrik yang disubsidi pemerintah.

Kepala Kantor ESDM Pemkab Sumenep Abd. Kahir menyatakan, daerah yang belum menerima aliran listrik mayoritas di kepulauan. Antara lain Kecamatan Arjasa, Kangayan, Sapeken, Nonggunong, Gayam, dan Raas. Kendala pengembangan listrik di kepulauan karena letak geografis yang jauh.

Akibatnya, pengembangan jaringan listrik sulit dan mahal. Kondisi di Sumenep daratan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di kepulauan. Pengembangan listrik di sejumlah kecamatan masih rendah. Bahkan, dari 18 kecamatan yang ada di daratan, baru empat yang mendapat listrik di atas 85 persen. Yakni, Kecamatan Kota Sumenep, Rubaru, Saronggi, dan Bluto.

Sisanya, yakni Kecamatan Guluk-Guluk, Pragaan, Batuputih, Manding, Pasongsongan, Dasuk, Dungkek, Lenteng, Gapura, Kalianget, Ganding, Batuan, Batang-Batang, dan Ambunten jaringan listriknya masih rendah. ”Sudah ada aliran listrik, namun belum merata,” kata Kahir.

Pengembangan listrik terus dilakukan pemerintah. Sebab listrik sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Namun, pembangunan jaringan listrik tidak bisa dilakukan bersamaan. Alasannya, anggaran sangat terbatas. Tahun ini Pemkab Sumenep mengalokasikan dana sekitar Rp 2,4 miliar untuk pengembangan listrik. Dana yang bersumber dari APBD itu akan digunakan untuk beberapa program.

Antara lain, pengembangan jaringan listrik PLN di sejumlah desa di Kecamatan Manding dan Guluk-Guluk. Program untuk memperluas jaringan listrik di wilayah kepulauan ada beberapa poin. Yakni, memberikan bantuan genset untuk sejumlah desa di Kecamatan Arjasa dan Kangayan.

Dengan bantuan itu, jumlah warga yang menikmati listrik semakin banyak. Selain itu, pemkab juga mengalokasikan dana untuk pemasangan jaringan pembangunan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) di Pulau Gili Raja, Kecamatan Giligenting.

Sejak beberapa waktu lalu, pemasangan jaringan listrik mulai dikerjakan. Di Pamekasan, hingga kini ada 50.000 rumah warga yang belum teraliri listrik PLN. Praktis, mereka tidak menikmati listrik yang disubsidi pemerintah. Manajer PLN Area Pamekasan Pedi Sumanto mengungkapkan, belum meratanya listrik tidak lepas dari beberapa kendala.

Salah satunya, infrastruktur jalan yang kurang memadai. Selain itu, letak geografis rumah warga berada di perbukitan. ”Seperti di Kecamatan Pakong, Waru dan lainnya, mayoritas rumah warga ada di perbukitan,” kata Pedi. Secara umum, semua desa di Pamekasan sudah teraliri listrik PLN. Yang belum dapat listrik yaitu dusun yang jauh dari jangkauan PLN.

Pihak PLN selama ini memprioritaskan wilayah terdekat. Tiap tahun PLN tetap menargetkan harus ada pelanggan baru. ”Yang terdekat dengan tiang listrik kami prioritaskan. Untuk memberikan layanan listrik, membutuhkan kabel yang panjang,” ucapnya.

Listrik PLN mendapat subsidi dari pemerintah. Misalnya, jika per meter listrik harganya Rp 1.500, separo dibayar pemerintah. Jadi masyarakat hanya mengeluarkan uang Rp 750. ”Tarif listrik PLN terjangkaulah, bergantung pada pemakaian,” ujarnya.

Membangun listrik bisa dilakukan pihak selain PLN. Misalnya, dari swasta ataupun pemkab. Dalam undang-undang, swasta dan pemkab juga punya kewenangan mengurus listrik. Tahun ini Pemkab Pamekasan melalui APBD 2016 mengalokasikan dana sekitar Rp 2 miliar untuk pengembangan jaringan listrik. Kepala Bagian (Kabag) Administrasi Pembangunan Pemkab Pamekasan Rahmat Kurniadi Suroso membenarkan tahun ini ada program pemasangan listrik di beberapa wilayah.

Biaya dari APBD Pamekasan 2016 sekitar Rp 2 miliar. Tak jauh berbeda dengan Sumenep dan Pamekasan, jaring  listrik di Sampang belum  merata. Pasalnya, 192 dusun  yang tersebar di 14 kecamatan belum ada jaringan listrik.

Kepala Bapemas Sampang Moh. Amiruddin mengatakan,  pembangunan listrik di 192 dusun tidak bisa dilakukan secara serentak.  Sebab, pemkab terkendala  anggaran yang terlalu besar. ”Jaringan listrik belum masuk ke semua dusun di Sampang,” katanya.

Meski demikian, pemkab akan melakukan pembangunan jaringan listrik. Pembangunan jaringan listrik akan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran. Untuk 2016, anggaran yang disediakan Rp 4 miliar. Dana itu akan digunakan membangan jaringan listrik di tiga desa di Kecamatan Ketapang, Robatal, dan Karang Penang.

”Pembangunan jaringan listrik tidak mudah. Misalnya, kesulitan akses ke pelosok dusun. Jadi harus melibatkan tenaga ahli,” jelas Amiruddin. Selain   itu, pemasangan jaringan listrik baru harus dilakukan uji tekanan ujung. Jika tekanan ujung tidak sesuai standar, tidak bisa dilakukan penambahan jaringan listrik.

Selain pemkab, PLN juga  membantu penambahan jaringan  listrik. Pemkab pernah membahas rencana pembangunan jaringan listrik dengan  pihak PLN. Wakil Bupati Sampang Fadhilah Budiono menyatakan, ada pembicaraan mengatasi permasalahan 192 dusun yang belum teraliri listrik. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • desa bragung guluk guluk masih belum tersentuh pln
  • dusun gunung desa bragung guluk guluk masih belum tersentuh listrik
  • fadhilah budiono