Harap-Harap Cemas, Pemkab dan Gudang Belum Tentukan Harga

AKTIVITAS jual beli tembakau di sejumlah gudang di wilayah  Pamekasan terbilang sepi. Sejumlah gudang hanya dihuni pekerja. Namun, tidak ada ciri-ciri membel tembakau. Malah sebagian pabrikan tembakau masih tutup. Tentu pemandangan seperti ini  jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

Biasanya, sejak Agustus, pihak gudang dan pabrikan mulai membuka harga. Termasuk, transaksi jual beli tembakau sudah dilakukan. Truk pengangkut  tembakau biasanya antre hingga di luar gudang. Saat ini pemandangan itu belum ada. Kondisi seperti ini berkaitan dengan musim kemarau basah yang dipengaruhi cuaca La Nina.

Banyak petani yang gagal panen karena tembakaunya diguyur hujan. Tentu itu juga akan berpengaruh terhadap kualitas tembakau. Bukan hanya petani yang kelimpungan, pedagang tembakau juga resah. Pasalnya, prediksi pedagang, awal September biasanya gudang buka.

Dengan begitu, pedagang mulai membeli tembakau petani. Bahkan, harganya tebilang tinggi. Yaitu, Rp 35 ribu per kilogram untuk tembakau berkualitas. Jika kualitasnya rendah, kisaran harganya Rp 20 ribu  per kilogram.  Para pedagang nekat mematok harga tinggi.

Padahal, pabrikan belum menentukan harga. Bisa dibilang, mereka berdagang layaknya berjudi. Salah seorang pedagang di Desa Bajang, Kecamatan Pak ong, mulai melakukan pembelian kemarin (30/8). Penyortiran oleh pekerja gudang juga dilakukan seperti di pabrikan.

Ach. Rofi’ie, 45, warga Kecamatan Pakong, khawatir tembakau petani rusak. Sebab, sebagian besar tembakau siap jual ke pabrikan. Sementara pihak gudang belum melakukan pembelian. ”Di daerah sini  sudah banyak yang siap jual.  Namun, sepertinya pihak gudang belum siap,” katanya.

Padahal, menurut dia, kualitas tembakau yang ada tidak terlalu jelek. Terbukti, di beberapa lokasi banyak tembakau yang terjual dengan  harga tinggi. Bahkan, Rp 35 ribu  per kilogram. Pihak gudang,  kata dia, tidak perlu khawatir soal kualitas.  Dia mengakui, tidak sedikit  petani yang resah. Sebab, pembelian tembakau belum maksimal. Salah satunya, tidak jelasnya pembelian di gudang pabrikan.

”Kami berharap segera ada kejelasan”, ucap Rofi’ie. ”Meski kami tidak menjual langsung ke gudang, setidaknya pembelian  tembakau di bawah semakin  banyak. Dengan demikian,  harga pun bisa lebih menguntungkan petani”, terangnya.

Moh. Mokri, pedagang tembakau di Kecamatan Pakong, minta penyerapan dilakukan gudang pabrikan di Pamekasan. Sebab, pihaknya telah membeli tembakau petani. ”Kami sudah membeli dengan harga tertinggi  Rp 35 ribu. Terendah Rp 20 ribu per kilogram,” katanya.

Dia belum mendapatkan informasi resmi mengenai harga  tembakau dari pihak pabrikan. Hanya, pihaknya berani membeli  dengan harga yang relatif tinggi. Kabid Perlindungan Konsumen Disperindag Pamekasan Hendradi mengaku, hingga kemarin, belum ada ketentuan  harga. Termasuk, kepastian jadwal pembelian oleh gudang pabrikan.

”Sekarang masih dalam pembahasan. Kemungkinan, dalam waktu dekat, sudah  ada hasil,” katanya. Pihaknya telah melakukan  pertemuan dengan sejumlah  pihak. Teramsuk, seluruh gudang pabrikan di Pamekasan. Namun, pihak pabrikan belum memastikan jadwal. Alasannya,  setiap gudang masih menunggu hasil pengiriman sampel ke pabrikan masing-masing.

Salah seorang tim pembelian tembakau gudang Apache Pamekasan Agus S. mengaku belum ada kepastian jadwal pembelian. Pihaknya menilai,  jumlah tembakau  rajangan minim. ”Kami belum menyusun besaran harga. Tapi, yang  pasti kami akan melakukan penyerapan,” ujarnya.

Untuk saat ini, pihaknya sengaja belum membuka pembelian. Salah satu alasannya, menunggu jumlah tembakau yang lebih banyak. Dengan begitu, perlu waktu untuk melakukan penyerapan. Dia  menilai, kualitas tembakau masih banyak yang kurang  baik. (radar)