Gagal Ringkus TO, Seret Tiga Tersangka

Polisi Sempat Dilempari Bondet

PAMEKASAN – Tim Polres Pamekasan menggerebek rumah JM (inisial) selaku target operasi (TO) kasus narkoba di Desa Jambringin, Kecamatan Proppo, Pamekasan, kemarin (19/4). Sayangnya, TO yang menjadi daftar pencairan orang (DPO) selama 2014 itu kabur.

Namun, aparat berhasil menyeret tiga tersangka kasus narkoba yang berkaitan dengan kasus JM.  Kapolres Pamekasan AKBP Sugeng Muntaha yang diwakili Kasatnarkoba Polres Pamekasan AKP Mohammad Sjaiful menyatakan, penggerebekan tersebut melibatkan tim dari jajaran satnarkoba, Kabag ops, satreskrim, dan Polsek Proppo.

Dia menerangkan, JM  merupakan TO yang selama ini diincar polisi. Pihaknya mendapat informasi dari masyarakat Proppo bahwa JM berada di rumahnya. Setelah itu, tim gabungan meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP). Sayang, sebelum tiba di TKP, JM melarikan diri. ”Kami gagal menangkap DPO inisial JM,” terangnya.

Dari jalan raya menuju rumah  JM berjarak sekitar 100 meter. Selain itu, kendaraan sedikit sulit untuk masuk ke lokasi. ”Nah, di saat kami menuju lokasi, kemungkinan besar, JM sudah melarikan diri,” ungkapnya.

Tak berhenti di situ, pihak kepolisian tetap menyisir area rumah JM. Dari penyisiran tersebut, dua tersangka yang diduga sebagai tangan kanan JM berhasil ditangkap. Mereka adalah Beny Kurniawan, 34, warga Jalan Jingga, Pamekasan, dan Haryanto Efendi, 30, warga Desa Buddagan, Kecamatan Pademawu.

Mereka ditangkap di salah satu rumah yang tidak jauh dari rumah JM. Dari tangan tersangka, polisi menyita barang bukti (BB) berupa tiga alat isap sabu-sabu (SS), tiga bong, tiga sajam (senjata tajam) jenis celurit, sebuah handphone, empat korek gas, dan 50 bon pembelian.

Di sela-sela Beny dan Haryanto diamankan, sempat ada perlawanan dari saudara-saudara JM di area lokasi. Salah satunya, Maryamah, 40. Dia hendak melempar bondet atau bom ikan kepada petugas. Untungnya, KBO Satnarkoba Polres Pamekasan Iptu Togiman langsung mencegahnya dan akhirnya bom tersebut tidak meledak.

”Bibi JM juga kami amankan. Sebab, dia mencoba melakukan perlawanan kepada kami. Sementara, keluarga yang lain hanya berteriak,” ucapnya. Pihaknya berjanji akan terus mengungkap kasus tersebut. Sebab, dengan adanya 50 bon itu, tercantum nama-nama yang melakukan transaksi penyalahgunaan narkoba. Paling besar, kata Sjaiful, pembelian satu hingga dua gram SS.

Beny dan Haryanto, terang dia, merupakan pelayan manakala ada yang hendak membeli SS. ”Nanti akan terungkap, siapa saja pengecer-pengecer itu. Untuk JM, dia merupakan DPO dari lima kasus yang terungkap dan kami akan terus melakukan pengejaran,” paparnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Beny dan Haryanto dijerat pasal 112 Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman, minimal lima tahun dan maksimal sembilan tahun penjara. Maryamah akan diproses pidana umum dengan sangkaan kepemilikan bom peledak tanpa izin. Yakni, dijerat pasal 18 Nomor 2 Tahun 1981 tentang Undang-Udang Darurat.  Ancaman hukuman, maksimal 15 tahun penjara.

”Kami akan menangkap JM.  DPO ini memang menjadi atensi semua pihak, baik tokoh maupun masyarakat sekitar,” jelasnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • asal usul proppo
  • desa jambringin proppo bergetar
  • penggerebekan amalil lah
  • penggrebekkan di proppo