Gada Rahmatullah Ditetapkan Tersangka

Pemeriksaan Pertama Langsung Ditahan

SAMPANG – Tersangka kasus dugaan korupsi program pengembangan tebu tahun 2013 bertambah. Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang menetapkan Gada Rahmatullah sebagai tersangka kelima kemarin (14/4).

Bendahara Koperasi Usaha Makmur ini  ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa penyidik selama tiga jam kemarin. Tidak hanya itu, pria yang kali pertama memenuhi panggilan penyidik itu juga langsung ditahan. Gada Rahmatullah tiba di kantor kejari sekitar pukul 13.00. Dia datang bersama kuasa hukumnya Arman Saputra.

Saat tiba di kejari, dia terlihat enteng masuk ke ruang jaksa untuk diperiksa. Setelah pemeriksaan, penyidik langsung mengumumkan bahwa status Gada tersangka. Anak kandung mantan bupati Sampang itupun langsung menggunakan rompi berwarna oranye.

Kemudian, Gada  digiring ke mobil tahanan untuk dibawa ke Rutan Kelas II-B Sampang. Humas Kejari Sampang Joko Hariyanto menyatakan, Gada akan ditahan selama 20 hari ke depan. Menurut dia, Gada sengaja ditahan pada pemeriksaan perdana untuk menghindari upaya menghilangkan barang bukti.

Selain itu, agar tidak melarikan diri dan tidak mengulangi perbuatannya, yakni mangkir dari panggilan penyidik. ”Selain alasan objektif dan subjektif itu, kami hanya ingin mempermudah pemeriksaan selanjutnya,” terangnya. Dijelaskan, dalam pemeriksaan kemarin, Gada dicecar 80 pertanyaan oleh penyidik.  Semua pertanyaan berkaitan dengan masalah penerimaan bantuan tebu.

”Pertanyaan penyidik tidak  jauh dari peran dia dalam kasus  ini. Termasuk tanggung jawabnya sebagai bendahara koperasi,” tambahnya. Sebenarnya, lanjut Joko, sebelum pemeriksaan, penyidik sudah memiliki sejumlah poin pertanyaan untuk Gada. Penetapannya sebagai tersangka dikuatkan dengan fakta-fakta dalam persidangan.

Terutama yang berkaitan dengan keterangan terdakwa Edy Junaidi dan Syaikhul. Selain itu, penahanan Gada Rahmatullah diperkuat sejumlah kesaksian pada sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya. ”Kami sudah punya catatan peran Gada dalam kasus ini. Fakta persidangan juga menguatkan catatan kami,” jelas Joko.

Untuk sementara, Gada dijerat pasal 2 dan 3 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Dikatakan, selama dua puluh hari ke depan, Gada akan diperiksa sebelum dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Surabaya.

Sementara itu, sidang dua terdakwa Edy Junaidi dan Syaikhul pekan depan memasuki tuntutan. Penyidik yakin, berkas Gada akan segera menyusul sebelum masa tahanan selesai. Arman Saputra selaku kuasa hukum Gada, mengaku keberatan dengan penahanan kliennya.

Dia menyebut penahanan tersebut bersifat prematur. Sebab kasus dugaan korupsi dana tebu belum inkracht alias belum berkekuatan hukum tetap. ”Kalau di persidangan kasus itu tidak terbukti, bagaimana dengan nasib klien saya?” sesalnya.

Dia menilai alasan penahanan tidak jelas. Sebab belum diketahui letak penyalahgunaan wewenang atau tindakan melawan hukum yang dilakukan Gada. Dugaan kasus korupsi tebu belum bisa dibuktikan secara yuridis. ”Kami sudah melakukan upaya penangguhan, tapi tidak berhasil. Penahanan terkesan dipaksakan,” tambahnya.

Seperti diketahui, berdasarkan hasil audit BPKP Jawa Timur, dalam kasus ini, negara mengalami kerugian sebesar Rp 21 miliar. Sementara total anggaran program pengembangan tebu tahun 2013 mencapai Rp 29 miliar. Rinciannya, Rp 27 miliar untuk penanaman tebu dan Rp 2 miliar untuk fasilitas penunjang.

Dalam temuan BPKP, dana yang dicairkan tidak terealisasi. Diketahui, 1.500 hektare lahan tebu yang diajukan Koperasi Usaha Makmur dan Serba Usaha tidak terealisasi. Buktinya, Koperasi Usaha Makmur hanya merealisasikan sekitar 166 hektare dari anggaran seluas 750 hektare.

Hal itu sama persis dengan temuan terhadap Koperasi Serba Usaha. Bahkan ditengarai lahan yang diajukan dishutbun terhadap pemerintah pusat diketahui tidak ada. Gada pernah dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Surabaya Maret 2016 lalu.

Kemarin, Gada langsung ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Sebelumnya, kejari telah menetapkan empat tersangka. Yakni, Kepala Dishutbun Sampang Singgih Bektiono, Kabid Bina Kelembagaan Syaikhul, Pengurus Koperasi Serba Usaha Abdul Aziz, dan Pengurus Koperasi Usaha Makmur Edy Junaidi. (radar)