Elpiji Melon Tembus Rp 50 Ribu

SUMENEP – Pemerintah sudah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram untuk kepulauan. Yakni, Rp 24 ribu per tabung. Sayangnya, ketentuan tersebut tidak berlaku di Pulau Masalembu, Sumenep.

Sebab, di pulau itu harga elpiji melon tembus hingga Rp 50 ribu per tabung.  Penjualan elpiji di atas HET itu terjadi di Pulau Keramaian, Masalembu. Sementara di tempat lain normal. Menurut Moh. Mansyur, 40, pemilik pangkalan elpiji di Masalembu, pemicu melambungnya harga elpiji 3 kilogram adalah tinggi permintaan hingga melebihi stok.

”Kebetulan saat ini di sana (Pulau Keramaian, Red) banyak orang luar mencari teripang. Mereka menggunakan elpiji,” tuturnya kemarin (30/4). Karena itu, Mansyur yakin  tingginya harga elpiji melon itu
hanya bersifat sementara. Dipastikan, setelah para pencari teripang pulang kampung, harga elpiji akan kembali normal.

Hanya saja, lanjut dia, harga tersebut merugikan warga sekitar. Sebab, pengecer menjual  elpiji dengan harga merata. Baik untuk pendatang seperti dari Makassar dan Sulawesi maupun kepada warga asli pulau yang dekat dengan Kalimantan itu.

Akibatnya, warga sekitar cenderung kesulitan untuk membeli tabung gas elpiji karena banderolnya terlalu tinggi. ”Sudah saya sampaikan ke pengecer agar tidak mengambil untung terlalu banyak,” ujarnya. Mansyur mengatakan, tingginya permintaan tabung juga berdampak pada ketersediaan di desa lain. Sebab, pengecer lebih memilih menjual ke Pulau Keramaian karena harganya menjulang.

Akibatnya, di daerah lain kerap kekurangan stok. Dia berharap, pemerintah mengambil sikap atas fenomena tersebut. Mengingat, tabung gas melon itu bersubsidi dan untuk keluarga miskin. Bukan untuk didistribusikan kepada pendatang yang mengeruk kekayaan alam Masalembu.

Kabag Perekonomian Setkab Sumenep Moh. Hanafi mengatakan, pemerintah tidak memiliki peran untuk menjaga stok. Sebab, tugas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya hanya mengontrol harga di lapangan. Untuk kontrol harga, Hanafi mengaku, ada tim khusus yang mengawasi.

Dengan demikian,  untuk kasus di Masalembu dia berjanji akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan tim di bawahnya. ”Nanti saya koordinasikan dulu,” katanya.

Dia memastikan, untuk harga di tingkat pangkalan tidak bakal jauh beda dengan HET yang telah ditentukan. Nah, untuk pengecer, tidak menutup kemungkinan harganya tinggi. Sebab, mereka juga mempertimbangkan biaya pengangkutan dari pangkalan hingga ke tempatnya masing-masing.  (radar)