Dulu Sembunyi, Sekarang Happy

RIBUAN warga antusias menyaksikan fenomena alam gerhana matahari. Di Sumenep, kemarin warga berkumpul di Jalan Lingkar Timur, Desa Pabian, Kecamatan Kota, menyaksikan gerhana matahari. Untuk wilayah Madura, matahari sebenarnya tidak mengalami gerhana total.

Setelah-salat-Kusuf-warga-bergegas-melihat-secara-langsung-fenomena-gerhana-matahari.

Berdasarkan rilis Gai’ Bintang Astronomi Club, matahari yang tertutup bulan hanya 88 persen. Namun, fakta itu tidak menyurutkan keinginan warga menyaksikan secara langsung  bukti kebesaran Tuhan itu. Sekitar pukul 05.00, warga mulai berdatangan ke Jalan  Lingkar Timur.

Mereka mengenakan  pakaian muslim karena sebelum melihat gerhana matahari terlebih dahulu menggelar salat Kusuf.  Pukul 07.00 rombongan bupati Sumenep beserta para  kepala SKPD juga tiba di lokasi.   Tidak lama kemudian, mereka  melaksanakan salat sunah gerhana matahari yang dipimpin  KH Taufiqurrahman Syakur.

Salat Kusuf selesai, jamaah langsung mengenakan kacamata khusus untuk melihat  matahari. Sebagian warga secara bergantian menggunakan teleskop melihat matahari yang mulai terlihat tidak bundar lagi. Tidak mau ketinggalan, wartawan Jawa Pos Radar Madura juga melihat keindahan matahari yang tertutup bulan  melalui teleskop.

Sesekali wartawan mengabadikan fenomena  alam itu menggunakan  kamera yang dikombinasikan dengan teleskop. Ketua Gai’ Bintang Astronomi Club Januar Herwanto menyampaikan, untuk di Sumenep, gerhana matahari memang tidak total.

Dia memperkirakan gerhana matahari 88 persen. Gai’ Bintang Astronomi Club menyediakan seribu kacamata  khusus bagi warga. Dengan  kacamata itu, warga bisa secara langsung menyaksikan gerhana matahari yang sangat jarang  terjadi tersebut.

Januar berharap, fenomena alam yang pernah terjadi 33  tahun silam itu tidak menjadi  euforia belaka. Tapi dimanfaatkan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan generasi bangsa.  Bupati Sumenep A. Busyro Karim menyampaikan, sudah saatnya masyarakat mengetahui perkembangan pengetahuan. Jika selama ini gerhana matahari diidentikkan  dengan hal-hal mistis,  perlahan itu harus berubah.

”Masyarakat harus semakin cerdas,” katanya. Rifkatul Janaah, 23, satu diantara ribuan warga, mengaku kagum terhadap fenomena alam itu. ”Saya baru kali ini melihat gerhana matahari. Senang,  sangat indah,” katanya. Di Pamekasan, gerhana matahari bisa dilihat dengan jelas pukul 07.28. Masyarakat menyempatkan melaksanakan salat Kusuf sebelum melihat gerhana matahari.

”Awal gerhana bisa dilihat mulai pukul  06.21, pertengahan gerhana  pukul 07.28, dan berakhir pukul 8.39,” terang Dosen Ilmu  Falak STAIN Pamekasan Ahmad Mulyadi.  Pria asal Sumenep itu menjelaskan,   pada puncak gerhana,  matahari yang tersisa hanya 12 persen.

Karena itu, matahari  terlihat seperti bulan sabit. Gerhana  matahari yang bisa dilihat di Talang Siring berlangsung  selama 2 jam 17 menit. Setelah  itu matahari kembali normal. ”Di Pamekasan, matahari  yang tertutup sekitar 88 persen.  Di tengah-tengah matahari dan bumi ada bulan, sehingga matahari  terhalang bulan,” jelas Mulyadi. (radar)