Dinsosnakertrans Tidak Aman

Sering Terjadi Pencurian Motor

BANGKALAN – Pengunjung Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Bangkalan harus lebih waspada jika membawa kendaraan. Pasalnya, di kantor tersebut sering terjadi tindak pencurian kendaraan  bermotor (curanmor). Kemarin (28/1),  sepeda motor seorang staf di kantor tersebut raib digondol maling.

Dinsosnakertrans-Tidak-Aman-Sering-Terjadi-Pencurian-Motor

Motor Honda Beat putih bernopol M 2727 MU itu milik staf Bagian Sosial Dinsosnakertrans Bangkalan Andri Setia Budi.  Sebelum sepeda motor itu  hilang, Andri berada di kantin.  Saat itu dia meletakkan kunci
sepeda motor di meja.

Beberapa saat kemudian, Andri masuk ke ruang kerjanya. Mengetahui kunci sepeda motornya ketinggalan, Andri pun kembali ke kantin. Setelah sampai di kantin, kunci sepeda motornya tidak ada di tempat semula. ”Saya pun mengecek sepeda motor di  parkiran. Ternyata sudah raib,”   katanya kepada Jawa Pos Radar Madura, kemarin.

Pria asal Kelurahan Bancaran, Kecamatan Kota Bangkalan, itu kemudian melapor kepada pimpinannya. Dia menerangkan, helm yang diletakkan di spion kanan tidak dibawa pencuri.  Benda itu hanya dipindah tempat. Helm tersebut akan dijadikan barang bukti untuk  diperiksa sidik jarinya.

”Kami sudah minta izin ke pimpinan dan dipersilakan untuk melapor ke polisi,” jelasnya. Andri mengungkapkan, di dinsosnakertrans memang sering  terjadi kehilangan sepeda motor. Seingat dia, sudah enam kali sepeda motor dicuri orang.

Dua sepeda motor milik Samsu dan Muhlis.  Keduanya juga staf di kantor  tersebut. Tiga kendaraan yang lain milik tenaga magang, kelompok pemuda yang sedang latihan teater, dan pengunjung. Semua kendaraan  itu diganti masing-masing Rp  2,5 juta. ”Sepeda motor yang  hilang di sini (dinsosnakertrans, Red) tidak ada yang  ketemu,” ungkapnya.

Kepada koran ini dia juga menyatakan, selama ini kasus curanmor di kantornya itu memang ditutup-tutupi. Dia berani mengungkap karena peristiwa itu sudah sering terjadi. Sekretaris Dinsosnakertrans Bangkalan Siti Amina awalnya tidak mengakui bahwa di kantornya sering terjadi kehilangan  sepeda motor. Sebab, perempuan yang baru selesai  rapat itu mengaku belum mendapat laporan.

”Tidak ada. Saya belum terima laporan kehilangan,” kelitnya. Tak lama kemudian dia mengakui kasus curanmor di kantornya. Itu setelah Andri menemui dirinya. Meski demikian, dia hanya mengakui kasus itu baru terjadi dan menimpa Andri. Dia tidak mengetahui kasus yang lain seperti disebutkan  bawahannya itu.

”Selama saya berada di sini, baru sekali ini ada kehilangan sepeda motor. Tidak benar kalau berkali-kali. Kalau kapan hari dipinjam temannya. Tapi dikembalikan,” dalihnya. Amina menegaskan, insiden kehilangan sepeda motor itu menjadi tanggung jawab  sekuriti. Sebab, dalam surat pernyataan, petugas keamanan itu wajib mengganti sepeda motor  yang hilang di dinsosnakertrans.

”Tidak ada kongkalikong antara sekuriti dengan pencuri yang mengambil sepeda motor,” katanya.  Saat ini Kantor Dinsosnakertrans Bangkalan dijaga oleh sepuluh satuan pengamanan (satpam). Mereka belum mendapatkan pelatihan resmi. Tapi, Amina mengklaim, petugas itu punya kemampuan menjaga keamanan.

”Mereka sudah paham sekalipun tidak mendapat pelatihan,” ucapnya. Wakil Bupati Bangkalan  Mondir A. Rofii menyatakan, sekuriti harus bertanggung  jawab. Semua satpam di dinsosnakertrans harus dilaporkan agar diperiksa. ”Harus lembaga yang melapor. Jangan dibiarkan agar jelas semuanya. Siapa yang tidak bekerja,” paparnya.

Menurut dia, kehilangan sepeda motor yang sering terjadi  akan membuat dinsosnakertrans  menjadi tidak kondusif. Kasus tersebut juga dinilai akan berpengaruh pada kinerja pegawai. Pegawai, kata dia, akan merasa tidak aman. Lalu,  mereka malas masuk untuk  bekerja.

Apalagi, masyarakat pencari kerja banyak datang ke kantor tersebut. Karena itu, dia akan memanggil Kepala Dinsosnakertrans Abd. Hamed. Sebab, sebelumnya Mondir tidak pernah mendengar kasus kehilangan. ”Ini kantor  yang lebih kecil kok sudah enam  kali?” tanyanya. (radar)