Ciduk Mahasiswa Kuris SS

SUMENEP – Peredaran narkoba merambah ke berbagai lini, termasuk dunia pendidikan. Polres Sumenep menangkap dua kurir narkoba  jenis sabu-sabu (SS). Salah seorang kurir itu ternyata berstatus mahasiswa di perguruan tinggi ternama di Sumenep.

Tersangka kurir SS dimaksud yakni Moh. Farid Efendi bin Osman Afandi, 22. Mahasiswa  semester enam itu berasal dari Desa Banjar Timur, Kecamatan Gapura, Sumenep. Seorang   tersangka lainnya adalah Jasuli bin Surahma, 29, asal Desa Panagan, Kecamatan Gapura.

Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Hasanuddin membeberkan, dua tersangka memang masuk target operasi (TO). Sebab berdasarkan informasi yang diterima polisi, dua pemuda itu menjadi pengedar obat terlarang. Pada Selasa (19/4), ada informasi dua orang tersebut akan melakukan transaksi narkoba di Desa Paberasan, Kota Sumenep.

Polisi menindaklanjuti informasi tersebut. Sesampainya di lokasi, mereka berdua duduk santai di depan balai desa setempat. Polisi lantas melakukan penggeledahan. Hasilnya, dari tangan tersangka ditemukan barang bukti (BB) berupa satu poket SS dengan berat kotor 0,14 gram. Tersangka langsung  dibawa ke mapolres untuk diproses lebih lanjut. 

”Penangkapannya malam sekitar pukul 19.00. Ada beberapa BB lain yang juga kami amankan. Salah satunya motor milik tersangka,” kata Hasanuddin, kemarin (20/4). Mantan Kapolsek Manding itu menyatakan, akibat perbuatannya, tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkoba.

Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Hasanuddin menegaskan, penangkapan dua tersangka itu akan dikembangkan. Sebab, tidak menutup kemungkinan ada bandar besar di balik maraknya peredaran narkoba di Sumenep.

”Ayo sama-sama berantas narkoba,” ajaknya. Dia berharap, penangkapan itu bisa menjadi pelajaran bagi semua  kalangan. Utamanya, di lingkungan   keluarga. Sebab, narkoba  sudah tidak lagi beredar di kalangan
pengusaha kaya. Tapi, sudah merambah ke dunia pendidikan. Sementara itu, Moh. Farid Efendi hanya terdiam tanpa komentar apa pun, kemarin. Sesekali dia menatap orang-orang di sekelilingnya.

Jawa Pos  Radar Madura mencoba konfirmasi mahasiswa kelahiran 1994 itu, tapi dia enggan menjawab. Sesaat sebelum dimasukkan kembali ke sel tahanan, dengan nada lirih sambil menundukkan kepala dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. ”Saya tidak akan mengulangi,” ucapnya. (radar)