Headline News:

Cerita Rakyat tentang Batu Gong di Pulau Sapudi

Diyakini Peninggalan Raja Bali, Dirawat Seadanya Di Desa Pancor, Kecamatan


Gayam, terdapat batu yang menyerupai gong, salah satu alat musik tardisional. Namun, ukurannya sangat besar. Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai batu gong. Batu itu diyakini sebagai peninggalan raja Bali. Bagaimana ceritanya?

UDARA pagi itu terasa begitu segar. Pepohonan yang rindang menambah keasrian di Desa Pancor, Kecamatan Gayam. Kemarin (15/8), Jawa Pos Radar Madura kembali menginjakkan kaki di Pulau Sapudi. Kali ini sebuah kompleks pemakaman di Dusun Togung menjadi tujuan koran ini. Di lokasi tersebut, terdapat benda kuno yang diyakini peninggalan kerajaan Bali. Benda yang dimaksud adalah batu gong. Sejumlah batu yang bentuknya memang menyerupai gong.

Ukurannya pun cukup besar. Tak hanya satu. Batu gong yang ada di Pulau Sapudi ini berjumlah 12 buah. Selain itu, di sana juga terdapat pemukul gong yang juga terbuat dari batu. Warga menyebut pemukul gong tersebut Lingga Semuh. Namun, Lingga Semuh ini hanya satu buah. Menurut warga, sejak awal ditemukan jumlahnya memang dua belas. Hingga saat ini, batu dibiarkan di kompleks pemakaman dan dirawat seadanya.

Tak ada bangunan yang melindungi batu gong. Batu dibiarkan tergeletak di alam terbuka tanpa pelindung dari sengatan matahari ataupun hujan. Tanah berumput menjadi alas dari batu-batu yang diyakini memiliki nilai sejarah itu. Kalaupun ada fasilitas khusus untuk menjaga batu gong, itu hanya sebatas pagar bambu. Kondisinya pun sudah rusak. Pagar itu mengelilingi seluruh batu gong yang ada di sana.

Memasuki areal pemakaman tempat batu gong ditempatkan, koran ini langsung disambut Salman, 45, warga setempat. Pria paro baya itu merupakan juru kunci dari benda yang diyakini memiliki nilai sejarah tinggi. Tak sulit untuk menelusuri cerita di balik batu gong. Dengan sukarela Salman mau menceritakan asal-muasal batubatu unik tersebut. Kepada Jawa Pos Radar Madura, kemarin.

Salman bercerita banyak tentang batu gong. Salah satunya mengenai siapa pemilik batu gong tersebut. Menurut dia, batu gong milik raja Bali yang bernama Kelongkong. Masyarakat setempat  meyakini Raja Kelongkongsempat tinggal di Pulau Sapudi, tepatnya di Desa Sukaramai, Kecamatan Nonggunong. Namun, saat itu terjadi peperangan antara Raja Kelongkong dengan Adi Poday. Dalam peperangan Raja Kelongkong kalah. Dia dan prajuritnya harus lari tunggang-langgang meninggalkan Pulau Sapudi.

”Karena Raja Kelongkong kalah, benda tersebut (batu gong, Red) tertinggal,” tutur Salman yang tampak bersemangat saat menceritakan asal mula kedua belas batu tersebut. Kenapa tertinggal di Desa Pancor, Kecamatan Gayam? Menurutnya, pasukan Raja Kelongkong sebenarnya sempat berusaha menyelamatkan batu gong. Saat itu mereka berlari ke arah timur dari Kecamatan Nonggunong tempat Raja Kelongkong tinggal.

Karena khawatir tertangkap, akhirnya batu itu ditinggal di Kecamatan Gayam. Ditanya awal mula ditemukannya batu gong, Salman mengatakan, batu ditemukan secara tidak sengaja. Ketika itu pohon beringin yang ada di sekitar pemakaman roboh. Saat hendak dibersihkan, ternyata di bawah pohon terdapat sejumlah bongkahan batu. Bentuknya yang unik membuat warga penasaran dan mengeluarkan bongkahan batu itu. Batu kedua pun bentuknya menyerupai gong. Akhirnya, kedua belas batu itu pun dikeluarkan berikut satu pemukulnya yang disebut Lingga Semuh. (radar)

Berita Bangkalan, Berita Sampang, Berita Pamekasan, Berita Sumenep

↑ Grab this Headline Animator

kata Kunci Terkait:

  • asal usul pulau sapudi
  • cerita batu gong
  • asal mula pulau sapudi
  • cerita rakyat batu gong
  • asal usul pulau sepudi
  • cetita rakyat asal mula terbentuk batu gong
  • batu gong raja
  • peninggalan dipulau sapudi
  • peninggalan pulau sapudi
  • asal mula batu gong

Komentar Anda

komentar

Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com