Catut Nama Anggota Polda, Guru Honorer Tipu Polisi

SUMENEP – Penipuan dengan mencatut nama pejabat penting bukan hal baru. Moh. Ali Qadri, 29, warga Dusun/Desa Aeng Anyar, Kecamatan Gili Genting, Sumenep, terpaksa  berurusan dengan hukum. Dia menggunakan nama Kasi Dikyasa Satlantas Polda Jatim AKBP Eddwi Kurnianto untuk memeras korban.

Kapolres Sumenep AKBP Joseph Ananta  Pinora mengungkapkan, tindakan Moh. Ali  Qadri cukup berani dan nekat. Pria yang berprofesi sebagai  guru honorer SD di Kecamatan Talango itu ditangkap di rumahnya sekitar pukul 14.00
Rabu (5/10).

Dasar penangkapan lantaran yang bersangkutan menggunakan akun media  sosial (medsos) Facebook bernama AKBP Eddwi Kurnianto. Akun tersebut kemudian dimanfaatkan untuk meminta uang kepada sejumlah orang. Bahkan, yang menjadi korban juga anggota Polri.

”Motif  pelaku membuat akun Facebook dengan nama AKBP Eddwi Kurnianto dan menggunakan foto profilnya. Lalu, meminta pulsa dan uang,” ungkap Pinora kepada sejumlah  wartawan kemarin (6/10).

Mantan Kasat Intelkam Polrestabes Surabaya itu mengungkapkan, aksi Moh. Ali Qadri dilakukan sejak April 2016. Kala itu,  pelaku membuat akun Facebook  dengan nama Den Qadri. Kemudian, mencari dan mengajak pertemanan kepada Niken Ajeng, warga Jakarta.

Upaya permintaan pertemanan kepada Niken Ajeng tak  kunjung mendapat respons  alias belum dikonfirmasi. Lalu, pelaku mengutak-atik profil Niken Ajeng. Dia juga melihat album foto. Di dalam album itu terdapat foto Niken Ajeng bersama seorang polisi bernama  AKBP Eddwi Kurnianto.

”Melihat foto itu, pelaku memiliki ide liar untuk membuat akun Facebook dengan  nama AKBP Eddwi Kurnianto,” kata Pinora. Setelah itu, pelaku mengunduh foto anggota Polri tersebut  melalui Google. Foto yang diambil yakni yang berseragam.

Tanpa berpikir lama, pria lulusan perguruan tinggi Surabaya  itu kembali membuat akun Facebook. Kali ini diberi nama AKBP Eddwi Kurnianto. ”Yang bersangkutan kembali  meminta pertemanan kepada Niken Ajeng. Nah, seketika  itu juga langsung permintaan  pertemanannya diterima oleh  Niken Ajeng,” ucap Pinora.

Komunikasi keduanya pun intens. Mereka sering chatting melalui Facebook. Sebulan kemudian, atau pada Mei, Moh. Ali Qadri menelepon Niken  Ajeng. Saat itu dia meminjam uang Rp 250 ribu. ”Alasannya untuk membayar sewa mobil. Ya, Niken Ajeng  akhirnya meminjamkan uang  sesuai diminta pelaku dengan cara ditransfer,” beber Pinora.

Aksi jahat Moh. Ali Qadri tidak  berhenti di situ. Dua minggu kemudian, guru honorer itu kembali meminjam uang kepada Niken Rp 1 juta. Alasannya pun cukup cerdik. Yakni untuk biaya berobat ibu pelaku dan  ongkos transportasi berangkat   ke Jakarta.

”Korban yang bernama Ni ken Ajeng kembali memberikan pinjaman melalui transfer. Tak hanya itu, selama berkomunikasi  dengan Niken Ajeng, pelaku juga minta pulsa,” kata Pinora. Setelah itu, pelaku kembali beraksi pada Agustus. Korbannya bukan Niken Ajeng lagi.

Kali ini, Imam Suhadi, anggota Polri bawahan AKBP Eddwi Kurnianto asli di Polda. Saat itu, pelaku membuka kembali akun Facebook yang diberi nama Eddwi Kurnianto. ”Saat dibuka ada permintaan pertemanan dari Imam Suhadi. Lalu, pelaku menerima permintaan pertemanan tersebut,” terangnya.

Melihat ada mangsa baru, pelaku langsung menelepon Imam Suhadi. Dia mulai meminta pulsa. Dari situlah, modus penipuan pelaku mulai dicurigai. Setelah dilakukan penyelidikan, pelaku ditangkap. Besaran pulsa yang diminta dan korban lain masih dalam  pengembangan petugas.

Bahkan, Pinora menuturkan, setiap kali tersangka hendak mengambil uang melalui anjungan tunai mandiri (ATM), tersangka menggunakan masker dan helm. Upaya itu diyakini supaya tidak terlacak kamera pengintai atau closed circuit   television (CCTV).

Barang bukti (BB) yang diamankan dari tersangka yaitu  satu buah handphone merek  Nokia warna hitam dan satu handphone merek BlackBerry hitam. Selain itu, satu tas ransel  warna abu-abu merek Navy  Club, satu helm hitam, dan satubuah masker warna hijau.

Moh. Ali Qadri dijerat pasal  28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elek- tronik jo pasal 378 KUHP. Diaterancam hukuman 6 tahun penjara. ”Tersangka kami limpahkan ke Polda Jatim. Sebab, kami hanya mem-back up di sini,” imbuhnya.

Kepada awak media, Moh. Ali Qadri mengaku menjalankan aksinya tanpa bantuan orang lain. Aksi penipuan itu ditekuni sekitar empat bulan lalu. Dia tidak menjelaskan alasan melakukan kejahatan tersebut.  ”Sudah empat bulan yang lalu. Pasrah saja,” tandasnya lalu terdiam. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • penipuan gili genting
  • Akbp eddwi kurnianto
  • penipu guru honorer di madura gili genting
  • kurnianto anggota polda
  • guru tipu polisi
  • gili genting penipuan
  • berita terkini tentang kadri ank gili genting
  • berita terkini aenganyar giligenting
  • ali qadri aeng anyar gili genting
  • penipuan giligenting