BPJS Kesehatan Tolak Pasien

Berdalih Masuk Operasi Kecantikan

PAMEKASAN – Pelayanan kesehatan masih belum berpihak kepada masyarakat miskin. Etty Dwi Oktaviarini, 23, warga Desa Bettet, Kecamatan Kota Pamekasan mengalami hal itu. Dia mengaku ditolak mengikuti program BPJS.

Agus-Nurul-Cahyadi--menunjukkan--kartu-BPJS--Kesehatan--setelah-istrinya-ditolak-operasi--melalui-program-BPJS-Kesehatan-kemarin.

Dia ditolak ketika akan operasi benjolan daging di bagian kewanitaannya pasca melahirkan. Padahal, berbagai persyaratan untuk bisa diikutsertakan program itu telah lengkap. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menyebutkan, Etty melahirkan Kamis (27/8/2015) dengan pertolongan bidan. Anaknya lahir dengan proses operasi kecil di bagian organ kewanitaannya.

Setelah 40 hari, dia melakukan kontrol terakhir untuk mengetahui kondisi bekas operasi. Menurut bidan yang menangani, jahitan sudah mengering. Tidak ada masalah dengan jahitan. Namun, setelah 60 hari kemudian  masih keluar darah.

Dia pun merasa cemas. Lalu, dibawa ke bidan, tempat dia melahirkan anak pertamanya itu. Setelah kembali diperiksa, bidan menyatakan ada penumbuhan daging di sela-sela jahitan. Daging itu berdarah dan sulit untuk  kering.

Saat itu, bidan memberi resep. Jika dua pekan tidak ada perkembangan, dianjurkan rujuk ke rumah sakit. Sebelum ke rumah sakit, pasien datang ke dokter BPJS Kesehatan di Jalan Dirgahayu. Dokter itu menganjurkan agar segera dibawa  ke rumah sakit.

Selasa (20/1)  dibawa ke poli kehamilan RSUD  dr Slamet Martodirdjo.  Di poli itu, Etty diberi resep dan dianjurkan kembali jika dua hari tidak ada perkembangan. Jumat (22/1), dia kembali ke poli itu. Dia diperiksa dan dianjurkan untuk operasi.

Sebab, hasil laboratoriun menyebutkan ada penumbuhan daging di sela-sela jahitan. Saat itu, pasien dianjurkan menginap. Keluarga pun mengurus kamar. Begitu juga persyaratan BPJS Kesehatan sudah dimiliki. Dia  ikut program BPJS Mandiri. Tiap  bulan bayar iuran kelas III.  Sekitar satu tahun punya kartu BPJS.

Jumat siang, sekitar pukul 11.00 Etty diperiksa di instalasi persalinan. Dokter menyampaikan,  pasien tidak bisa diklaim atau dioperasi menggunakan pelayanan BPJS. Sebab, operasi masuk kategori kecantikan. Keluarga kaget dan mempertanyakan hal itu kepada dokter.

Dokter menganjurkan pasien menanyakan ke BPJS. Dokter itu memberi secarik kertas berisi oret-oretan untuk diberikan kepada  petugas BPJS di rumah sakit itu. Pihak BPJS juga menyatakan tidak bisa karena masuk kategori kecantikan.  Itu bisa dioperasi dengan  biaya sendiri sekitar Rp 6 juta.

Biaya itu belum termasuk obat-obatan dan kamar. Nah, karena mampu bayar, berkas BPJS dicabut. Etty pindah ke rumah sakit swasta. Agus Nurul Cahyadi, suami  Etty mengaku heran atas kebijakan BPJS yang tidak bersedia mengklaim istrinya dalam biaya operasi.

Dia menganggap alasan BPJS terkesan mengada-ada. Istrinya tidak bisa dioperasi melalui program itu karena diklaim masuk operasi kecantikan. ”Operasi kecantikan bagaimana, wong ini penyakit yang harus dibuang? Kalau jalan dan duduk merasa sakit. Soal operasi ini sudah anjuran dari poli kehamilan,” ungkapnya kemarin (23/1).

Agus mengaku telah menjelaskan kepada petugas BPJS bahwa benjolan daging itu akibat operasi ketika akan melahirkan. Penjelasan itu  tetap tidak diindahkan karena BPJS  beralasan sudah ada keterangan  dari tim medis RSUD. Keterangan  itu menyebutkan operasi Etty  masuk kategori kecantikan.

”Malah saya dianjurkan agar istri dioperasi biasa dengan biaya  sendiri. Kalau seperti itu, apa manfaatnya saya mengikuti BPJS. Apalagi ketika menanyakan biayanya,  masih lebih mahal jika dibandingkan dengan rumah sakit  swasta,” paparnya.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pamekasan Moh. Ismail  Marzuki mengungkapkan, operasi yang masuk kategori kecantikan memang tidak bisa diklaim. Namun, jika memang keberadaan penyakitnya mengganggu  pasien bisa. Dia mencontohkan  pada tahi lalat.

Kalau tidak mengganggu, itu masuk kecantikan. Tapi kalau semakin besar, gatal, dan sebagainya itu dikategorikan mengganggu. ”Nah, itu bisa masuk (diklaim, Red),” ujarnya. Ismail berjanji akan mencari tahu kronologi dan riwayat penyakit yang dialami Etty.

Dirinya  tidak bisa berspekulasi jika belum mengetahui cerita dari petugas  medis. Senin pekan depan dia akan lihat dan berkoordinasi dengan stafnya di rumah sakit.  ”Saya berharap pasien  kembali  berkonsultasi kesana, sehingga  hasilnya jelas dan sama-sama bisa  dipahami,” terangnya.

Direktur RSUD dr Slamet Martodirdjo  Farid Anwar juga akan  menelusuri kepada dokter yang menangani sehingga pasien tidak  bisa diikutkan program BPJS.  Kemungkinan, kata dia, pasien dianjurkan ditangani ke dokter spesialis kecantikan. Sebab,  pihaknya tidak mempunyai dokter spesialis itu. ”Makanya tidak  bisa ditangani di sini. Tapi lebih  jelasnya saya akan menanyakan dulu,” janjinya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • operasi tahi lalat pakai bpjs kenapa harus menginap?