Belasan Napi Konsumsi Narkoba

Petugas Gabungan Temukan Sisa Sabu

BANGKALAN – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II-B Bangkalan mendadak ramai Rabu malam (23/3).  Sebagian warga binaan yang  sudah tidur harus bangun. Pasalnya, saat itu sedang digelar razia untuk menekan peredaran narkotika dan obat/ bahan berbahaya (narkoba).

Razia gabungan itu melibatkan beberapa unsur. Antara lain, pejabat pemkab, petugas Satnarkoba Polres Bangkalan, dan Kanwil Kemenkum HAM Jatim. Razia berlangsung selama dua jam dimulai pukul 20.30. Kali pertama personel dari satnarkoba masuk rutan.

Saat masuk kamar sel, sebagian tahanan sudah tidur. Ada juga yang masih mengobrol dengan rekan-rekannya.  Razia tersebut bersamaan dengan turunnya hujan deras. Sekitar 15 menit kemudian, rombongan yang lain merangsek masuk.

Mereka terdiri dari personel polres, pejabat pemkab, dan rombongan Kemenkum  HAM. Dari pemkab terlihat Wakil Bupati Mondir A. Rofii dan  sejumlah pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD).  Satu per satu ruangan tahanan digeledah.

Petugas gabungan menyisir  dan memeriksa 34 kamar.  Tim menemukan banyak peralatan yang semestinya tidak boleh ada dalam ruang tahanan. Seperti, alat isap sabu, pipet, dan sejenisnya. Kapolres Bangkalan AKBP Windiyanto Pratomo mengatakan, razia merupakan perintah yang harus  dilaksanakan.

Pemeriksaan itu untuk menekan peredaran narkoba  di rutan. Setelah digeledah,  banyak ditemukan barang dan  peralatan yang dilarang. Barang-barang  itu justru ditemukan petugas di kamar warga binaan. Dia mencontohkan, pihaknya  menemukan pipet sabu di salah  satu ruangan. Selain itu, pipet juga ditemukan di kamar  mandi.

”Pipet dan sisa sabu yang ditemukan,” ungkapnya. Barang tersebut menjadi petunjuk petugas untuk mengembangkan.  Saat itu pihaknya menginterogasi  salah satu tahanan. Tahanan itu, jelas Kapolres, mengaku baru mengonsumsi sabu di dalam rutan.

”Jelas ada yang memasok sabu ke rutan ini,” jelasnya. Setelah penggeledahan dan pemeriksaan kamar tahanan, razia dilanjutkan dengan tes urine. Upaya  tersebut dilakukan terhadap  tahanan perempuan dan laki-laki. Hasilnya, 50 persen dari sampel yang dites positif menggunakan narkoba.

”Sampelnya 34 napi, yang positif 16 napi,” ungkapnya. Narapidana (napi) yang positif mengonsumsi narkoba akan dimintai keterangan. Pihaknya berjanji akan mengungkap pemasok barang haram itu. Jumlah tahanan di rutan tersebut 209  orang.

Sepuluh di antaranya perempuan. Petugas rutan 41 orang. Tes urine bagi tahanan perempuan semua negatif. Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Jatim Djoni Priyatno mengatakan, pihaknya saat ini sedang getol memeriksa lapas dan rutan. Jika ada keterlibatan petugas akan dipecat.

”Jika terbukti saya akan menjadi orang pertama yang memberikan sanksi pemecatan,” tegasnya. Karena itu, setiap pemeriksaan  pihaknya selalu membawa alat tes urine. Tes menarget warga binaan, petugas rutan, dan satgas di Madura.

Pihaknya membawa dua kardus alat tes urine karena di Bangkalan belum terbentuk BNNK. Dia menegaskan, petugas rutan  di Madura masih belum ada yang  diberi sanksi. Namun, di tingkat Jawa Timur pihaknya sudah memecat seorang petugas dan empat lainnya diturunkan jabatannya.

”Kami terbuka. Silakan penegak hukum melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin atas temuan di rutan,” katanya. Mondir A. Rofii menyatakan, pihaknya akan menyiapkan kantor sementara untuk BNNK. Jika lembaga itu terbentuk, diharapkan mampu mencegah  peredaran narkoba di Kota Salak.

”Tahun ini BNNK kami upayakan terbentuk,” janjinya. Kepala Rutan Kelas II-B Bangkalan Hari Winarca tidak memungkiri adanya pemasok narkoba. Terkait penyelidikan dan temuan saat razia, dia memasrahkan kepada polres. ”Pemasok  pasti ada. Sebab, ada  barang bukti di dalam rutan,” tandasnya. (radar)