Banyak Yang Rugi, Bupati Pastikan Tidak Ada Subsidi

MUSIM tembakau tahun ini tidak seberkah tahun-tahun sebelumnya. Kemarau basah yang melanda Madura dan wilayah  lain di negeri ini membuat para petani rugi. Daun emas tidak lagi membuat petani untung, tetapi buntung. Tahun ini tidak ditemukan lagi  hamparan lahan yang ditanami tembakau.

Pekarangan rumah warga di perdesaan yang biasaya dijadikan tempat menjemur rajangan tembakau juga sangat jarang ditemukan. Beda dengan beberapa tahun lalu. Maklum, menanam tembakau tidak lagi menjadi musim yang ditunggu- tunggu. Sebab, cuaca dan harganya pun tidak bersahabat lagi.

Pathorrazi, 48, petani di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, misalnya. Dia gagal mendapat keberkahan daun emas. Saat tanam pertama pada Juni lalu, ribuan pohon tembakau miliknya mati  lantaran tergenang air hujan. Dia coba menanam untuk kedua kalinya, tapi lagi-lagi mati karena faktor yang sama.

”Saya kapok, berhenti tidak tanam lagi. Saya rugi jutaan rupiah. Tapi, mau gimana lagi, ini mungkin ujian bagi saya,” ujarnya kemarin (28/9). Hal serupa dialami Zahri, 50, warga Kelurahan Bugih, Kecamatan Kota Pamekasan. Tanaman tembakaunya dua  kali terendam banjir. Namun, dia terus mencoba menanam untuk kali ketiga. Saat ini tembakaunya belum siap panen.

”Saya masih waswas. Soalnya hampir setiap hari turun hujan. Kalau terus-terusan hujan begini, bisa-bisa tembakau  saya gagal panen,” keluhnya. ”Padahal, modal yang saya keluarkan sudah lebih dari tiga juta,” tambah Zahri.   Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Pamekasan Samukra memaparkan,  tahun ini banyak petani yang  rugi. Jika di awal-awal gagal  tanam, di akhir musim justru  gagal panen.

”Ada yang sudah dirajang, dijemur, kemudian kena hujan. Banyak yang rusak tembakaunya,” jelasnya. Yang paling memprihatinkan, lanjut Samukra, saat ini banyak tembakau yang belum panen. Sementara hujan hampir turun setiap hari di Pamekasan. Bahkan, musim hujan kali ini diprediksi lebih cepat daripada tahun-tahun sebelumnya.

”Oktober ini diperkirakan memasuki musim hujan. Kalau yang sudah panen dan terjual mahal, tidak masalah. Tapi, kasihan yang belum panen,”  imbuhnya.  Kepala Disperindag Pamekasan Bambang Edi Suprapto  menerangkan, produksi tembakau tahun ini diperkirakan  hanya 30 persen atau sekitar  enam ribu ton dari yang ditargetkan 19 ribu ton.

Saat ini yang terbeli oleh gudang mencapai dua ribu ton lebih. Sisanya berada di petani atau belum  panen di sawah. ”Tapi, gudang berjanji akan membeli semua tembakau milik warga Pamekasan. Semoga saja itu dilakukan,” tegasnya.

Sayangnya, meski tahun ini musim tembakau gagal, pemkab seolah menutup mata. Buktinya, dalam KUA PPAS 2017, pemkab tidak mengalokasikan  anggaran untuk subsidi tembakau tahun depan. Hal itu pun diakui Bupati Achmad Syafii. Pihaknya memang tidak memiliki anggaran untuk memberikan bantuan langsung kepada petani tembakau.

Alasannya, tembakau bukan pertanian yang dilindungi pemerintah. Dengan demikian, pemerintah tidak bisa mengalokasikan anggaran untuk petani yang tahun  ini merugi. Menurut Syafii, yang boleh disubsidi hanya tanaman pangan.

”Kami biasanya bukan kepada petani tembakaunya kalau ada bantuan. Karena tembakau memang bukan komoditas yang dilindungi. Biasanya, subsidi diberikan ke pertanian tanaman pangannya. Saya dulu pernah memberikan subsidi tanaman padi,” ujar Syafii. (radar)