Ayah Meninggal Dunia, Ibu Mengidap Kencing Manis

SIANG kemarin (23/9) langit Bangkalan cerah. Matahari berjalan seperti biasa. Seperti biasa pula beberapa orang berkumpul di sebuah gardu. Tepatnya di salah satu sudut  Jalan Letnan Ramli. Mereka adalah para penarik becak. Setiap hari mangkal di situ.

Menunggu penumpang. Dari sekian orang itu, satu di antaranya masih anak-anak. Syaiful Rohman nama anak itu. Dia lahir di Sampang pada 20 Januari 2002. Bocah 14 tahun itu sudah  enam bulan lalu atau sejak Maret lalu akrab dengan becaknya.

Becak yang dia sewa dari seseorang. Di mata keluarganya, Syaiful Rohman menjadi pahlawan. Bocah yang akrab disapa Sipul itu terpaksa dewasa sebelum waktunya. sehari- hari dia harus memeras keringat dengan memutar pedal becak. Sipul mengantar dan menjemput penumpang di Kota Bangkalan.   Pekerjaan itu dia lakoni penuh ikhlas demi keluarga.

Dia terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tuntutan ekonomi. Bukan keinginan dia menjadi pekerja di usia yang masih belia. Namun, keadaan keluarga  yang membuatnya harus berpikir dewasa. Menjadi tulang punggung keluarga. Sipul merupakan anak pasangan suami istri (pasutri) Ahmad  Mudhar dan Suti.

Selain Sipul, pasutri ini juga memiliki buah hati perempuan. Namanya, Siti Rohmah, adik Sipul. Saat Sipul berumur lima tahun, dia harus menjadi yatim. Ayahnya meninggal dunia pada 2007   lantaran sakit. Dia pun tinggal bersama ibu dan Siti Rohmah.

Keluarga ini semakin terpuruk  pada 2014. Suti, 60, tidak bisa bekerja lagi karena sakit. Setelah diperiksa, dia mengidap kencing manis. Dia tidak bisa keluar rumah. Sebab, kakinya bengkak.  Sebelumnya, perempuan  kelahiran 1956 itu menjual nasi dan gorengan di Pelabuhan Kamal, Bangkalan.

Siti, Sipul, dan Siti Rohmah, kini tinggal di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Bancaran, Kecamatan Kota Bangkalan. Keluarga ini  sebenarnya berasal dari Desa   Pao Pale Laok, Kecamatan Ketapang, Sampang. Setiap hari Sipul keluar rumah pukul 07.00.

Dia membawa becak menyusuri jalan-jalan di Kota Salak. Dia berharap mendapat penumpang. Biasanya Sipul mangkal di Jalan  Letnan Ramli bersama tukang becak lain. Karena fisiknya yang kecil dan kurus, tak jarang penumpang  enggan menggunakan jasanya.

Mereka beralasan takut Sipul tidak kuat dan kecelakaan. Semua keraguan itu ditepis oleh  semangat Sipul.  Dengan penuh semangat, dia  sabar dan ikhlas mengantarkan penumpang ke tempat tujuan  dengan selamat. Terkadang, dia harus mengayuh becak dengan penuh tenaga.

Sebab, penumpang membawa barang banyak dan berat. Penumpang becak Sipul beragam. Mulai pelajar, guru, mahasiswa, dan ibu rumah tangga. Masalah ongkos dia menentukan  sesuai jarak yang ditempuh. Marsidin, 55, pengayuh becak  yang lain mengakui semangat   dan perjuangan Sipul.

Warga Bancaran itu menyebut hanya Sipul pengayuh becak dari kalangan anak-anak. Semangat  sipul sulit ditemui saat ini. Dengan penuh ikhlas dia merawat ibunya. Semua pendapatan Sipul diserahkan kepada  perempuan yang telah melahirkannya.

Dia hanya mengambil Rp 5 ribu untuk jajan. Pendapatan sebagai tukang becak dalam sehari tidak menentu. Kadang hanya bisa mendapat Rp 30 ribu–Rp 45 ribu. Uang itu dipotong Rp 3.000 untuk biaya sewa becak setiap hari. Sebelumnya, Sipul sempat mengenyam dunia pendidikan di SDN   Pao Pale Laok pada 2008–2013.

Dia melanjutkan ke salah satu SMP di  Junok, Bangkalan. Namun, hanya  sampai di kelas dua. Dia memilih berhenti sekolah karena masalah biaya. Selain  itu, dia ingin menjaga adiknya yang masih kecil. Juga, ibunya yang sakit. Sejak saat itu dia  belum berpikir untuk kembali   belajar ke sekolah.

Sipul mengaku ingin bekerja dan merawat sang ibu. Dia ingin sekali membawa ibunya  berobat dan merawat hingga sembuh. Karena itu, dia dengan tegas mengaku tidak malu memutar pedal becak demi  keluarga.  Tiap hari, dia kembali pulang ke rumah sekitar pukul 17.00.

”Buat apa malu? Yang penting pekerjaan saya halal dan tidak merugikan orang lain. La korta’ ngemmes ban ta’ ngeco’ (asal  tidak mengemis dan tidak mencuri),” ucapnya. (radar)

kata Kunci Terkait:

  • ta kecelakaan di sampang kemaring madura