Angka Kematian Ibu Hamil dan Bayi Tinggi

BANGKALAN – Angka kematian ibu hamil menjadi momok di Bangkalan. Penyebab tertinggi kematian ibu hamil adalah eklamsi, yaitu tensi tinggi di atas 150 mmHg yang mengandung protein urine positif. Di urutan kedua, penyebab kematian ibu hamil yaitu pendarahan yang salah satu pemicunya kurang darah atau  anemia.

Merujuk data Dinas Kesehatan  (Dinkes) Bangkalan, pada  2015 ada 13 ibu hamil yang meninggal. Enam di antaranya disebabkan eklamsi. Angka tahun lalu itu meningkat dibandingkan  dengan 2014 yang  mencapai 10 ibu melahirkan  meninggal.

Tiga di antaranya disebabkan pendarahan. Sementara angka kematian bayi lebih mencengangkan karena mencapai ratusan setiap  tahunnya. Penyebab tertinggi kematian bayi karena berat  badan lahir rendah (BBLR).  Salah satu pemicu BBLR karena  faktor gizi ibu hamil.  Angka kematian bayi pada  2015 mencapai 154 kasus.

Sebanyak 67 bayi di antaranya meninggal karena BBLR. Angka tahun lalu itu menurun dibandingkan dengan 2014 yang mencapai 112 bayi meninggal. Sebanyak  49 bayi di antaranya  meninggal karena BBLR. Plt Kepala Dinkes Bangkalan Yusro menyampaikan, angka kematian ibu hamil dan bayi  setiap tahun naik turun. Tiap tahun angka kematian ibu hamil berkisar 10-20 orang.  

Sedangkan kasus kematian bayi  memang mencapai ratusan. Bagi ibu hamil yang bermasalah, tidak perlu ragu dan  takut untuk datang ke rumah  sakit. Sebab, jika masalah terlambat ditangani, bisa  menyebabkan pendarahan,  eklamsi, dan faktor-faktor lain.

”Ibu hamil minimal empat kali periksa ke dokter. Setiap  bulan ke bidan desa. Itu untuk mengetahui normal tidaknya kehamilan,” katanya. Ibu hamil yang mengalami  eklamsi disebabkan tensi tidak normal. Tensi ibu hamil yang  tidak normal bisa mencapai 150  mmHg dengan protein urine  positif.

Dalam dunia medis, seharusnya  protein urine negatif. Jika menderita eklamsi, ibu hamil harus melakukan persalinan di rumah sakit. ”Tensi normal 120 mmHg. Ibu hamil  yang menderita eklamsi, rata-rata meninggal karena sudah berbahaya,” jelasnya.

Perencanaan persalinan hendaknya  dipersiapkan sejak dini. Hal itu agar ibu dan bayi bisa selamat dan tidak mengalami masalah. Banyaknya kematian bayi karena BBLR disebabkan ibu hamil khawatir mengonsumsi makanan. ”Ibu hamil  bisa makan apa saja. Tentu harus seimbang dan tidak berlebihan,” ujarnya.

Mindset di masyarakat, ibu hamil tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan-makanan tertentu. Menurut Yusro, justru ibu hamil tidak mempunyai pantangan untuk mengonsumsi makanan. ”Kekurangan makanan bisa menyebabkan  bayi lahir kurang gizi dan berat badannya rendah,” ucapnya.

Faktor lain yang menyebabkan bayi meninggal karena  terjadi asfiksi. Yaitu, ketika  ibu hamil seharusnya dilakukan  persalinan, tak kunjung bersalin. Hal itu bisa membahayakan  ibu dan bayi yang  dikandungnya. ”Di Bangkalan cukup banyak ibu hamil yang takut dan khawatir melahirkan. Mereka lebih percaya untuk melakukan persalinan ke dukun,” ucapnya.

Dia mengimbau, ibu hamil mulai mengubah mindset. Yusro tidak mempermasalahkan ibu hamil melakukan persalinan  ke dukun. Hanya saja, ibu  hamil harus didampingi tim  dari dinkes. ”Agar kami bisa
memantau perkembangan  kesehatan ibu pasca hamil dan  saat melahirkan,” ujarnya.

Pada 2015, dinkes sejatinya menyiapkan satuan tugas penanggulangan angka kematian ibu dan bayi (satgas penakib). Hanya saja, tim yang notabene  masih mahasiswa ini belum mampu mengkaver dan meminimalisasi angka kematian ibu hamil dan bayi.

Alasannya, satgas penakib  hanya ada di Kecamatan Burneh. Di kecamatan itu pernah  ada ibu hamil di satu desa  mencapai 134 orang. ”Kami berencana meningkatkan program satgas penakib dan disebar di setiap kecamatan,” pungkas Yusro. (radar)