Anak 14 Tahun Hilang Terseret Arus

SAMPANG – Bencana banjir terbesar awal tahun ini melanda Sampang kemarin (11/1). Seorang anak terseret dan dinyatakan  hilang hingga tadi malam.  Banjir juga menggenangi beberapa  wilayah dan mengganggu  kegiatan belajar mengajar (KBM)  di beberapa sekolah.

Warga-berada-di-jembatan-gantung-di-Dusun-Tambangan,-Desa-Tanggumong,-Kecamatan-Kota-Sampang,-tempat-Faisol-Sipli-bermain-kemarin.

Sumber Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menyebutkan, Faisol Sipli, warga Dusun Pleyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang, terseret arus Sungai Kemuning. Remaja 14 tahun itu terseret arus di Dusun Tambangan,  desa setempat, sekitar pukul  14.30.

Sebelumnya, dia bersama temannya mandi di sungai itu.  Mereka mandi di jembatan  gantung. Di bawahnya terdapat sungai yang airnya mengalir deras.  Korban bersama temannya biasa melompat ke sungai itu.

Namun, saat anak yang biasa  dipanggil Isol itu melompat,  dia tidak kembali lagi karena  terseret arus sungai.  Saat itu, Isol bersama Wawan, 14, dan Hoiri, 9. Sementara identitas kedua temannya yang lain belum diketahui. Sebab,  ketika terbawa arus mereka  sudah tidak ada di lokasi.

”Isol sudah saya larang. Tapi masih ikut nyebur,” terang Wawan. Zainullah, 29, warga setempat, mengatakan, jembatan  tersebut memang menjadi  tempat bermain anak-anak  ketika ada banjir. Menurut dia, anak-anak di sekitar sungai mahir berenang  meskipun arus deras.

”Kalau  anak-anak di sini (Dusun  Tambangan, Red) pintar berenang,” jelasnya. Dia mengungkapkan, sebenarnya  korban sempat meminta  tolong kepada temannya. Saat mencebur juga memegang  ranting bambu yang bergelantung ke sungai. Saat itu,  teman-teman korban sempat menertawakan korban.

”Dikira bergurau sama teman-temannya ketika korban  meminta tolong. Tapi karena  arus deras, korban cepat terbawa aliran dan tidak kelihatan,” ungkapnya. Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan  BPBD Sampang  Akh. Fauzan mengatakan,  pihaknya mengerahkan 25 personel.

Mereka dibantu delapan anggota PMI dan  sepuluh personel dari kodim  dan koramil. Pencarian juga dilakukan taruna siaga bencana (tagana), Pramuka, LPBI  NU, dan relawan yang lain.  ”Petugas mencari di dua titik.

Di dua titik itu disisir bolak balik dan stand by di Paseyan  mengantisipasi korban terbawa  arus,” katanya. Pencarian  masih dilakukan petugas dan  warga hingga berita ini ditulis tadi malam. Namun upaya  mereka belum membuahkan  hasil.

”Kami akan maksimal  dalam melakukan pencarian,”  paparnya.  Banjir juga menyebabkan  lima desa dan satu kelurahan  tergenang. Antara lain, Desa Kemuning, Paseyan, dan Panggung. Selain itu, Desa Gunung Maddah, Tanggumong, dan Kelurahan Dalpenang.

Sementara Kelurahan Rong Tengah masuk  daerah terdampak. Air juga mengganggu KBM di SDN Dalpenang 1, SDN  Gunung Maddah, dan SMPN 6 Sampang. Banjir luapan Sungai Kemoning itu terjadi sekitar  pukul 03.40. Luapan sungai semakin besar ketika hari semakin siang.

Air mengalir hingga di sekitar monumen Jalan Pahlawan, Sampang.  Laila, 23, warga Jalan Suhadak, mengatakan, banjir masuk ke halaman rumahnya  pukul 05.00. Debit air semakin  besar dan masuk ke teras pukul 09.00.

”Saya dan keluarga  sudah siap-siap takut banjir  semakin besar. Kami amankan  barang-barang berharga seperti TV, kulkas, dan komputer,”  terang perempuan  yang tinggal di gang III itu. Sementara itu, Bayu, 29, warga Jalan Kamboja mengatakan,  banjir kiriman mulai  tinggi dan mencapai teras rumah. Bahkan, lanjut dia, tidak  menutup kemungkinan banjir  akan sampai ke Kelurahan  Rong Tengah.

”Banjirnya sudah tinggi. Di Jalan Kamboja  sudah setinggi lutut orang  dewasa,” bebernya.  Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  Sampang Wisnu Hartono  mengklaim, banjir sebenarnya  sudah diprediksi sebelumnya. Puncak ketinggian air terjadi  pada pukul 16.00.

Saat itu, intensitas curah hujan di daerah utara tinggi bersamaan dengan  pasang air laut.  ”Untuk di Kelurahan Dalpenang, tepatnya di Jalan Imam Bonjol, tingginya kurang lebih  70 sentimeter atau setinggi  perut orang dewasa. Tapi,  di monumen masih setinggi lutut,” jelasnya.

Pada pukul 11.30 pihaknya  memantau di beberapa lokasi.  Pihaknya mengakui, jika ada lima desa dan satu kelurahan tergenang. Kemungkinan  ada tambahan sekolah  yang terendam. Salah atunya  SMKN I Sampang dan SDN  Rong Tengah.

”Kami belum bisa memantau semua daerah. Saat ini kendaraan tidak bisa dipakai  untuk meninjau semua lokasi,” tandasnya. (radar)