TKI Ilegal Asal Kangean Dipulangkan

Nekat Berangkat Gunakan Jasa Calo

KOTA – Hingga saat ini masih ada tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berangkat secara ilegal. Terbaru, pemerintah Malaysia memulangkan para pekerja asal Desa/Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean. Tujuh orang itu bekerja sebagai kuli bangunan dan ibu rumah tangga.

Mereka dipulangkan paksa karena tidak memiliki dokumen resmi selama tinggal di Negeri Jiran itu. Mereka sampai di kantor Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan (Disnakertransduk) Provinsi Jawa Timur Kamis (17/3). Setelah didata, mereka dipulangkan ke tempat asal.

Dalam surat keterangan nomor 560/07/106.03/2016 disebutkan identitas mereka. Antara lain, Akmat, Awasamaat, Musahri, Musyairi, dan Faati. Mereka bekerja sebagai kuli bangunan. Kemudian Rasidah dan Wati sebagai ibu rumah tangga.

”Tiba di kantor Disnakertrans Sumenep Kamis pukul 02.00. Mereka bermalam di rumah kerabatnya di Kalianget,” kata Kasi Perluasan dan Penempatan Kerja Disnakertrans Sumenep Suharto kemarin (18/3). Sebelum dipulangkan, mereka ditanya asal-muasal pemberangkatan sebagai TKI. Mereka mengaku berangkat melalui jalur ilegal yang dimotori para calo setempat.

”Mereka pulang ke Arjasa dengan bekal Rp 100 ribu per orang,” jelasnya. Mereka menuju Malaysia melalui jalur laut. Dari Kangean menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kemudian menyeberang lagi ke Tanjung Pinang, Riau, atau ke Tanjung Priok, Jakarta. Setelah itu menyeberang lagi menuju Batam.

”Banyak jalur yang mereka lewati,” ujarnya. Dia mengaku kewalahan menangani TKI ilegal yang marak itu. Padahal, kata Suharto, instansinya telah melakukan sosialisasi dengan melibatkan calo. Perbandingannya, kalau resmi mereka dilatih dulu. Kemudian mereka menuju daerah yang diinginkan. Sementara jika melalui calo, tanpa latihan dan harus menanggung segala risiko.

”Infonya minggu depan ada TKI ilegal yang akan dipulangkan,” ujarnya. Sekadar diketahui, pada Januari-Februari, terdapat 67 TKI yang dipulangkan. Bulan ini 31 tenaga kerja yang dideportasi. Total berjumlah 98 orang pencari kerja secara ilegal. Selama 2015 terdapat 614 orang. (radar)