Tim Cagar Budaya Belum Kerja

KOTA – Rencana pemerintah meneliti bangunan dan benda kuno yang ditengarai cagar budaya tidak dilakukan. Hingga kemarin (19/9),  tim yang dibentuk beberapa waktu lalu belum bisa bekerja. Penyebabnya, mereka baru memiliki sertiikat kompetisi.

Kabid Kebudayaan dan  Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Sumenep Sukaryo membenarkan hal tersebut. Kemungkinan, penelitian itu  dilakukan akhir bulan ini. Untuk menjadi anggota tim ahli cagar budaya (TACB), jelas dia, harus memiliki sertifikat kompetensi.

Baik  dari sisi hukum, budaya,   maupun arkeolog. Agar  mendapatkan sertifikat itu, butuh waktu relatif lama,  yakni sekitar setahun. Menurut dia, tujuh orang  yang dibentuk Pemkab  Sumenep menjadi TACB sudah mengikuti penilaian di Kemendikbud tahun  lalu. Sertiikatnya juga turun.

”Kontrak dengan TACB itu selama dua tahun,” tuturnya kemarin (19/9). Sukaryo menerangkan, ada  sekitar 220 bangunan dan   benda yang diduga sebagai cagar budaya. Benda-benda itu sudah diajukan ke Kemendikbud. Hanya, dia  pesimistis, penelitian selesai  cepat. Mengingat, anggaran  sangat terbatas, yakni di  bawah Rp 100 juta.

Dengan demikian, pemerintah melakukan skala prioritas. Objek pertama yang akan  diteliti adalah bangunan. TACB diminta menginventarisasi bangunan-bangunan kuno yang dinilai mengandung sejarah. Untuk tahun berikutnya, akan dilanjutkan pada benda.

Dengan cara seperti itu, lambat laun semua bangunan dan benda akan terveriikasi. Jika masuk kategori cagar budaya, bakal direkomendasi ke pemerintah pusat. Sekretaris Komisi IV DPRD Sumenep Moh. Imran mengatakan, penelitian cagar  budaya itu harus disegerakan. Sebab, khawatir keburu rusak.

”Bangunan dan benda itu usianya lebih dari 50 tahun. Makanya, segera diinvetarisasi,” tegasnya.  Kemudian, cagar budaya bisa dijadikan destinasi  wisata baru. Jika itu terwujud, Sumenep memiliki nilai tawar lebih. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya disuguhi wisata religi dan bahari. Tapi, mereka juga disuguhi wisata sejarah dan budaya. (radar)